(Taiwan, ROC) --- Di tengah pencarian ramuan umur panjang yang tak ada habisnya, sebuah studi ilmiah justru membuktikan bahwa rahasianya tersembunyi dalam kebiasaan yang sangat sederhana, yaitu makan lebih sedikit.
Para ahli menegaskan bahwa ini bukan sekadar soal mengurangi kalori, melainkan memberikan kesempatan bagi sel-sel tubuh untuk bernapas dan memperbaiki diri.
Wei En (韋恩), seorang pakar nutrisi terkemuka, mengibaratkan mitokondria di dalam sel kita sebagai pembangkit listrik. Saat kita makan, pembangkit ini bekerja keras untuk mengubah makanan menjadi energi. Namun, proses ini tak luput dari efek samping.
"Saat beroperasi, percikan api tak terhindarkan akan menyebar. Percikan api kecil ini adalah radikal bebas," jelasnya.
Tubuh kita sebenarnya memiliki sistem pemadam kebakaran berupa antioksidan untuk membersihkan radikal bebas ini. Namun, saat kita makan berlebihan, pembangkit listrik bekerja tanpa henti, menghasilkan terlalu banyak percikan api. Akibatnya, sistem pemadam kebakaran kewalahan, dan kerusakan sel pun terjadi, memicu penuaan dini dan berbagai penyakit.
"Ketika asupan makanan berkurang, beban mitokondria juga ikut berkurang, tekanan oksidatif secara alami menurun, dan mitokondria tidak mudah menghasilkan racun dan limbah metabolisme yang berlebihan," ujar Wei En.
Dengan kata lain, makan lebih sedikit memberikan waktu istirahat yang sangat dibutuhkan oleh sel, mengurangi kerusakan oksidatif, dan pada akhirnya membuka jalan menuju tubuh yang lebih sehat dan umur yang lebih panjang.