(Taiwan, ROC) --- Otoritas Biro Keamanan Nasional (NSB) dan Kementerian Pertahanan Nasional (MND) Rabu hari ini (17/12) menghadap Yuan Legislatif melaporkan perihal ancaman Tiongkok dan status kesiapan tempur Angkatan Bersenjata Nasional.
NSB menunjukkan bahwa ancaman Tiongkok di kawasan Indo Pasifik terus meningkat. Untuk mengatasi hal ini, negara sekutu AS telah meningkatkan kemampuan pencegahan bersama melalui berbagai latihan militer. AS bersama Jepang dan Filipina juga memperkuat kerja sama dengan mengerahkan jaringan serangan rudal anti kapal di Rantai Pulau Pertama untuk membangun kemampuan blokade maritim.
Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Nasional Yuan Legislatif pada Rabu hari ini mengundang MND dan NSB untuk memberikan laporan khusus dan menjawab pertanyaan mengenal Analisis Titik Konflik Militer Potensial di Sekitar Selat Taiwan dan Status Kesiapan Tempur Angkatan Bersenjata Nasional.
Laporan NSB menunjukkan bahwa hingga Senin kemarin (15/12), pesawat militer Tiongkok yang melanggar wilayah udara sekitar Taiwan telah melebihi 3.570 unit, melampaui 3.070 unit pada tahun 2024, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, militer Tiongkok telah melaksanakan 39 kali Patroli Kesiapan Tempur Bersama, yang diyakini bertujuan untuk menguji mode peringatan dini dan respons Taiwan, serta memvalidasi pengelolaan medan perang Selat Taiwan.
NSB menyoroti bahwa tahun ini Tiongkok untuk pertama kalinya melakukan latihan pelayaran dua kapal induk di pasifik barat. Selain itu, insiden kapal penjaga pantai Tiongkok menyemprotkan meriam air ke kapal pemerintah Filipina, dan pesawat tempur J-15 mengunci radar pesawat tempur F-15 Jepang, telah memicu tekad pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya untuk memperkuat pertahanan bersama di Rantai Pulau Pertama.
NSB menjelaskan bahwa melalui latihan gabungan, militer AS mengerahkan sistem rudal Typhon dan NMESIS di Jepang dan Filipina. Selain itu, Jepang juga berencana mengerahkan peluru lancar Island Defense (HVGP), dan Filipina mengerahkan rudal anti kapal Brahoms, yang secara signifikan meningkatkan kemampuan blokade maritim di Rantai Pulau Pertama.
Direktur NSB, Tsai Ming-yen (蔡明彥), mengatakan, “Dalam Strategi Keamanan Nasional yang baru diumumkan, AS juga memosisikan kawasan Indo Pasifik sebagai teater prioritas untuk persaingan global. Konsep pertahanan penolakan yang diajukan AS ini, tugas prioritas pertamanya berfokus pada Rantai Pulau Pertama, menyoroti upaya AS untuk mendorong sekutu dan mitra untuk bersama-sama meningkatkan energi pertahanan guna menahan ancaman ekspansi Tiongkok.”
Mengenai langkah-langkah kesiapan tempur Angkatan Bersenjata Nasional, MND menyatakan bahwa mereka telah mengintegrasikan berbagai sarana intelijen, pengawasan dan pengintaian, serta komunikasi untuk membangun gamparan operasi bersama dan memantau aktivitas militer Tiongkok di Selat Taiwan. Dalam masa damai, Angkatan Bersenjata akan mengerahkan kekuatan laut dan udara secara tepat sesuai dengan indikasi peringatan dini musuh yang penting, ketika Tiongkok mengumumkan operasi militer gabungan terhadap Taiwan, Pusat Respons Angkatan Bersenjata Nasional akan diaktifkan sesuai perintah dan perencanaan kekuatan Peningkatan Kesiapan akan diselesaikan, serta tingkat kessiapan tempur akan dinaikkan sesuai tingkat ancaman dan melaksanakan Latihan Siaga Tempur Segera.
MND juga menunjukkan bahwa jika musuh melancarkan serangan mendadak, maka semua unit akan melaksanakan misi tempur tanpa menunggu perintah, di bawah pedoman operasi desentralisasi. Menteri MND, Wellington Koo (顧立雄), mengatakan, “Dalam semua mata pelajaran latihan kami, ada apa yang disebut komando dan kontrol yang terdesentralisasi. Kami ingin semua unit terbiasa dengan misi yang seharusnya mereka lakukan. Ini adalah konsep komando berbasis misi. Artinya, ketika menghadapi serangan mendadak, mereka harus tahu bagaimana menangani situasi darurat.”
MND menekankan bahwa untuk membangun kekuatan guna menjaga perdamaian di Selat Taiwan, maka Angkatan Bersenjata Nasional berorientasi pada empat arah perencanaan pembangunan militer, masing-masing kemampuan tempur asimetris, ketahanan pertahanan, kekuatan cadangan, dan kemampuan penanganan zona abu-abu.”
Selain itu, mereka juga membangun kekuatan kontra seperti Perisai Taiwan dan senjata counter anti drone, yang menunjukkan tekad pertahanan diri.