(Taiwan, ROC) -- Sektor perhotelan saat ini tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja, sehingga pelaku industri menutup sebagian kekosongan tersebut dengan mendatangkan pelajar magang asing ke Taiwan. Namun, hak-hak para pelajar magang seperti tunjangan dan jam kerja belum mendapatkan perlindungan yang memadai.
Dirjen Pariwisata Kementerian Transportasi dan Komunikasi, Chen Yu-hsiu (陳玉秀) mengemukakan jika pihaknya telah mulai berdiskusi dengan Kementerian Tenaga Kerja mengenai perlindungan hak pelajar magang asing, dengan harapan dapat menetapkan mekanisme yang jelas untuk menjamin tunjangan, asuransi, serta waktu istirahat mereka.
Industri perhotelan dalam negeri saat ini kekurangan sekitar 10.000 tenaga kerja, dengan posisi yang paling langka adalah petugas pembersih hotel (housekeeper), mencapai angka sekitar 6000 orang. Pemerintah Taiwan kembali membuka kesempatan untuk pelajar asing untuk datang ke Taiwan dan menjalani program magang di sektor perhotelan, dengan ketentuan bahwa masa magang tidak boleh melebihi setengah dari masa studi mereka.
Para peserta magang tidak menerima gaji, sementara pemberian tunjangan magang serta fasilitas makan dan tempat tinggal bergantung pada kesepakatan antara institusi pendidikan di negara asal dengan pelaku usaha perhotelan di Taiwan.
Ditjen Imigrasi pada hari ini (17/12) menghadiri rapat interpelasi komite transportasi di Yuan Legislatif untuk memberikan laporan. Dirjen Pariwisata Chen Yu-hsiu (陳玉秀) dalam sebuah wawancara setelah rapat menyatakan, mekanisme perlindungan hak bagi pelajar magang asing memang belum cukup memadai.
Pelajar magang asing merupakan sumber talenta penting, dan di kemudian hari mereka diharapkan dapat tetap tinggal dan bekerja di Taiwan. Pihaknya pada bulan lalu telah berdiskusi dengan Kemenaker mengenai hak-hak mereka, dengan tujuan dapat menetapkan perlindungan terhadap tunjangan, asuransi, dan waktu istirahat, meskipun rincian mekanismenya masih dalam pembahasan.