(Taiwan, ROC) --- Dari Teheran hingga Tokyo, demam emas tengah melanda dunia. Harga logam mulia ini telah meroket sebesar 63% sejak awal tahun, mencetak rekor tertinggi dalam 46 tahun terakhir. Di balik lonjakan fantastis ini, para analis menunjuk satu fenomena yang tak terduga, gelombang FOMO (Fear of Missing Out) yang menyeret para investor muda untuk ikut-ikutan masuk ke pasar.
Situasi global yang bergejolak telah memantapkan posisi emas sebagai aset safe haven utama. Namun, kali ini, media sosial memainkan peran besar. Video-video orang memborong emas yang viral telah memicu kepanikan dan hasrat untuk tidak ketinggalan kereta, terutama di kalangan generasi muda.
"Permintaan emas sebagian besar didorong oleh FOMO dan kurang memiliki keyakinan struktural," ujar analis pasar senior, Priyanka Sachdeva.
Sementara itu, di tengah harga emas yang terus menanjak, sebagian investor mulai melirik adiknya, yaitu perak. Dengan kenaikan harga hampir 70% tahun ini, perak dianggap memiliki potensi kenaikan yang lebih eksplosif. "Sekarang adalah waktu terbaik membeli perak," ujar seorang investor di Singapura.
Para pakar memperingatkan bahwa meskipun tren kenaikan emas kemungkinan akan berlanjut, investasi, terutama pada perak yang lebih fluktuatif, memerlukan timing yang tepat. Namun satu hal yang pasti, demam logam mulia ini telah mengubah lanskap investasi global, dengan generasi baru yang kini ikut menari di lantai dansa pasar komoditas.