(Taiwan, ROC) --- Pekan lalu menjadi panggung gemilang bagi logam mulia. Emas, perak, dan platinum kompak menutup pasar dengan grafik hijau yang meyakinkan. Momentum ini berlanjut hingga pembukaan sesi Asia Senin hari ini (22/12), di mana harga emas spot kembali menggeliat di kisaran US$ 4.360 hingga US$ 4.370 per ons, sementara perak tampil lebih agresif dengan menembus level US$ 68 per ons. Ini adalah rekor tertinggi baru dalam sejarah.
Merujuk laporan Bloomberg dan Investing.com, hingga Senin pagi pukul 09.00, emas spot sukses mempertahankan tren positif pekan sebelumnya. Pergerakan harga yang stabil di angka US$ 4.360-an membuat logam kuning ini kian dekat untuk memecahkan rekor tertingginya di level US$ 4.381 yang sempat tersentuh pada pertengahan Oktober lalu.
Namun, sorotan utama justru tertuju pada perak. Logam ini bergerak liar di atas US$ 67,50 bahkan sempat menjebol dinding psikologis US$ 68 per ons. Menurut analisis Bloomberg, lonjakan harga ini dipicu oleh gelombang dana spekulatif yang membanjiri pasar pada Oktober lalu, yang memperparah defisit pasokan dan menjaga harga tetap tinggi.
Optimisme Para Analis
Dalam laporannya akhir pekan lalu, analis Goldman Sachs, Daan Struyven dan Samantha Dart, memproyeksikan tren bullish emas akan berlanjut tahun depan. Mereka mematok target dasar di angka US$ 4.900 per ons. Risiko kenaikan harga dinilai masih terbuka lebar, terutama karena persaingan ketat antara investor ETF dan bank sentral dunia dalam memburu cadangan emas yang kian terbatas.
Di sisi lain, data Bloomberg memperlihatkan lonjakan permintaan perak yang signifikan tahun ini. Ketimpangan antara pasokan dan permintaan di pusat perdagangan utama seperti London telah mengerek harga perak hingga naik dua kali lipat pada 2025. Jika tren ini bertahan hingga tutup tahun, duo logam mulia ini berpotensi mencatatkan kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.