Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Festival Tarian Budaya dan Apresiasi Relawan Guangfu di Keelung Menghangatkan Hari

22/12/2025 13:32
Penulis & Editor: Linda Linarta
Foto bersama dalam "Festival Tarian Budaya dan Apresiasi Relawan Guangfu di Keelung"
Foto bersama dalam "Festival Tarian Budaya dan Apresiasi Relawan Guangfu di Keelung"
Beberapa relawan di Guangfu yang bekerja sukarela lintas negara
Beberapa relawan di Guangfu yang bekerja sukarela lintas negara
Pemberian medali dan sertifikat penghargaan untuk para PMI yang menjadi relawan.
Pemberian medali dan sertifikat penghargaan untuk para PMI yang menjadi relawan.

(Taiwan, ROC) -- Sebagai bentuk terima kasih kepada para pekerja migran asing yang secara sukarela pergi ke Kecamatan Guangfu, Kabupaten Hualien, pada masa libur mereka, Chang Gung University of Science and Technology (CGUST) melalui program university social responsibility (USR) menggelar “Festival Tarian Budaya dan Apresiasi Relawan Guangfu” pada hari Minggu, 21 Desember 2025, bertempat di Plaza Terminal Bus Keelung. Acara ini sendiri disubsidi oleh Kementerian Pendidikan Taiwan, bekerja sama dengan Pustaka Bergerak, Rerum Novarum, Persatuan ABK Keelung (KMFU), PCINU Cab.Keelung, dan KDEI Taipei.

Acara ini merupakan acara budaya sebagai bentuk penghargaan bagi para pekerja migran yang tanpa pamrih telah membantu para korban bencana banjir bandang di Guangfu, Hualien, yang kebetulan merupakan kampung halaman Lin Qun (Maoge – Kakak Kucing), salah satu warga Taiwan yang aktif membantu para ABK dan pekerja migran di Taiwan.

Perwakilan penyelenggara, yaitu Wen Cheng-hsing (翁政興) yang merupakan profesor dari Departemen Pendidikan Umum CGUST menyampaikan bahwa para pekerja migran ini memanfaatkan hari libur mereka, membiayai sendiri perjalanan, dan secara sukarela menempuh lintas kabupaten untuk terlibat dalam pembersihan pascabencana di Hualien. 
Hal ini menunjukkan semangat kemanusiaan yang melampaui peran kerja semata serta kecintaan yang mendalam terhadap tanah Taiwan, yang layak mendapatkan pengakuan tinggi dari masyarakat. Melalui karnaval apresiasi ini, diharapkan masyarakat dapat mengenal kembali pekerja migran di Taiwan, tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai mitra penting yang bersedia tampil di garis depan saat bencana melanda.

Acara dimulai sejak pukul 10:00 pagi, diawali dengan Tari Taksuning, kemudian Tari Gambir Anom, dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari pihak penyelenggara dan tamu kehormatan. Acara semakin meriah dengan penampilan Tari Topeng, Tari Puspanjali, dan Tari Merak yang memperlihatkan keragaman budaya Indonesia. Setelahnya, upacara penghargaan untuk mengapresiasi 40 pekerja migran dan warga Indonesia yang menjadi “pahlawan sekop” digelar. Kepala KDEI, Ari Sulistiyo bersama dengan Lin Chia-ling (林嘉玲) Chief of Sustainability CGUST, Wen Cheng-hsing, dan Lin Qun memberikan medali dan piagam penghargaan untuk para sukarelawan yang hadir, disertai pemutaran video dokumentasi penyelamatan yang mengajak masyarakat mengenang proses rekonstruksi pascabencana.

 

Pemberian medali dan sertifikat penghargaan untuk para PMI yang menjadi relawan.

Pada sore hari, Singo Barong Taiwan menampilkan pertunjukan tari berskala besar. Di sela acara, doa memperingati Hari Ibu dan korban bencana banjir di Sumatra pun tak luput dari agenda panitia.

Beberapa sukarelawan yang diwawancara oleh Rti menyampaikan, bahwa mereka membantu karena alasan kemanusiaan. Jamhuri, salah satunya menyampaikan, kegiatan di sela-sela kesibukannya bekerja adalah menjadi sukarelawan, seperti “Universal Volunteer” yang sering kali mengadakan kegiatan bersih-bersih di pantai atau pegunungan, dan semuanya bersifat sukarela. Para relawan dari berbagai negara yang ditemui di Guangfu pun dengan rendah hati menunjukkan bahwa mereka dengan senang hati membantu untuk bersih-bersih di wilayah yang terkena bencana, sehingga kegiatan mereka terasa lebih berkesan dan mendalam.

Sultan, salah satu relawan menyampaikan, ketika tiba di lokasi bencana rasa sedih berkecamuk di kepalanya. “Rasanya sedih ya… keadaannya sangat memprihatinkan, banyak rumah yang terkena banjir bandang, rasanya wah.. gimana gitulah (sulit untuk diungkapkan).”

Para relawan ini hanya bisa membantu di saat akhir pekan atau di hari libur mereka, sehingga ketika harus berpisah di saat waktu tidak memungkinkan, ada rasa sedih yang turut hadir menghampiri para relawan ini. Halim salah satunya, ia pun mengatakan, “ketika balik, ada perasaan sedikit senang karena bisa membantu walaupun tidak seberapa ya.. terus ya ada sedihnya, karena kita hanya bisa membantu tidak seberapa, sementara saat itu yang mereka butuhkan masih sangat banyak.”

Beberapa relawan di Guangfu yang bekerja sukarela lintas negara

Dengan kegiatan Festival Tarian Budaya dan Apresiasi Relawan Guangfu, Lin Qun yang turut berperan aktif membantu dan mengkoordinasi para relawan dari pekerja migran ini berharap, rasa terima kasih Taiwan dapat tersampaikan, sekaligus menunjukkan keakraban antara Taiwan dan Indonesia.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解