(Taiwan, ROC) -- Tiongkok dikabarkan telah menghentikan peninjauan izin ekspor tanah jarang ke Jepang, dan sasarannya tidak hanya mencakup pelaku usaha militer, tetapi juga meluas ke industri lainnya. Akademisi menunjukkan bahwa jika kabar tersebut benar, pada tahap awal pihak Jepang masih memiliki persediaan untuk menopang kebutuhan, dan kemungkinan akan meminta bantuan Amerika Serikat untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur politik.
Namun, jika kontrol tanah jarang oleh Tiongkok ini tidak terselesaikan dalam jangka panjang, maka efek berantainya dikhawatirkan akan memukul proses manufaktur canggih semikonduktor global hingga produksi produk akhir.
Kementerian Perdagangan Tiongkok pada Selasa (6/1) mengumumkan pengetatan kontrol ekspor terhadap barang penggunaan militer dan sipil ke Jepang, di mana tanah jarang termasuk dalam daftar tersebut. Wall Street Journal pada Kamis (8/1) mengutip pernyataan dari sumber, yang menyebutkan bahwa Tiongkok telah menghentikan peninjauan lisensi ekspor tanah jarang ke Jepang. Selain pelaku usaha militer, cakupan larangan ini juga menyentuh industri Jepang lainnya.
Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, baru-baru ini mengenai Taiwan memicu reaksi keras dari Tiongkok. Kontrol ekspor terhadap barang penggunaan militer dan sipil kali ini, termasuk tanah jarang, juga dipandang sebagai bagian dari tindakan balasan.
Direktur Taiwan Industry and Economics Services (TIER), Liu Pei-chen (劉佩真), menyatakan bahwa Tiongkok menguasai lebih dari 90% kapasitas pemurnian tanah jarang global. Dalam jangka pendek, negara lain sulit untuk membangun rantai pasokan alternatif, setidaknya membutuhkan waktu 5 tahun agar bisa terbentuk. Jika Tiongkok benar-benar memutus ekspor tanah jarang ke Jepang, maka pada tahap awal Jepang masih bisa mengandalkan persediaan, serta mencari intervensi Amerika Serikat untuk melakukan koordinasi.
Liu Pei-chen juga memperingatkan, jika masalah ini tidak dapat diselesaikan melalui cara politik dan diplomatik, dan ketika persediaan Jepang habis, maka hal ini dapat memicu reaksi berantai. Pasalnya, Jepang adalah salah satu dari tiga pemasok peralatan semikonduktor terbesar di dunia. Kekurangan tanah jarang akan menyebabkan penundaan pengiriman peralatan semikonduktor tingkat tinggi, yang selanjutnya akan menghambat kemajuan ekspansi proses manufaktur canggih dari perusahaan raksasa seperti TSMC, Samsung, dan Intel, yang pada akhirnya akan memukul produk akhir elektronik global.
Liu Pei-chen menunjukkan bahwa pihak Amerika Serikat sangat memahami besarnya pengaruh tanah jarang. Sebelumnya, dalam negosiasi AS-Tiongkok bahkan terdapat kerangka kerja cip ditukar dengan tanah jarang. Ia memprediksi bahwa AS dan Jepang akan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan masalah ini melalui berbagai saluran sebelum situasi menjadi benar-benar tidak terkendali, sehingga kemungkinan situasi memburuk ke kondisi terparah relatif lebih rendah.