Di tengah gegap gempita perayaan ekonomi yang untuk pertama kalinya dalam sejarah berhasil menyalip Jepang dan Korea Selatan, sebuah lonceng kematian demografis berbunyi nyaring di Taiwan.
Kementerian Dalam Negeri (MOI) baru saja merilis data statistik kependudukan yang mengejutkan, yakni tingkat keengganan untuk memiliki anak di Taiwan telah meroket, merebut takhta sebagai yang nomor satu di dunia. Sebuah ironi pahit di mana kemakmuran ekonomi justru berbanding terbalik dengan keinginan untuk melanjutkan generasi.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa jumlah kelahiran pada tahun 2025 dengan susah payah hanya mampu bertahan di angka 100.000 jiwa. Jika dikonversi, angka ini setara dengan tingkat kelahiran kasar tahunan yang anjlok ke titik terendah sepanjang masa, yaitu 4,62 per seribu penduduk.
Angka ini hanyalah permulaan jika dibandingkan dengan era keemasan generasi baby boomer pada tahun 1950-an hingga 1960-an, di mana angka kelahiran pernah mencapai 38 hingga 49 per seribu. Saat ini, Taiwan bahkan tertinggal jauh di belakang negara tetangga yang juga menghadapi krisis populasi, Korea Selatan diperkirakan akan bangkit dengan angka 6,7 per seribu, sementara Jepang masih mampu bertahan di atas 5 per seribu.
Fenomena ini semakin membingungkan jika disandingkan dengan prediksi ekonomi yang cemerlang. Bank DBS memproyeksikan ekonomi Taiwan akan tumbuh sebesar 7,2% pada tahun 2025, didorong oleh demam Kecerdasan Buatan (AI) global, dengan PDB per kapita mencapai US$38.000.
Namun, di saat yang sama, Efek Tahun Naga yang biasanya mendongkrak angka kelahiran pada tahun 2024 justru gagal total untuk pertama kalinya. Penurunan ini tidak melambat, malah semakin cepat. Dalam satu dekade terakhir, Taiwan telah kehilangan lebih dari 100.000 bayi baru lahir per tahun. Jika dibandingkan dengan puncak kelahiran yang pernah mencapai 420.000 jiwa per tahun, angka saat ini bahkan tidak sampai seperempatnya.
Dengan tingkat fertilitas total yang dikhawatirkan akan jatuh di bawah angka 0,8, Taiwan kini dipastikan telah menyalip Korea Selatan, menjadi negara di mana tangisan bayi adalah suara yang paling langka di dunia.