Sebuah mimpi buruk kemanusiaan tengah berlangsung di Iran. Protes yang awalnya dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok kini telah bermutasi menjadi jeritan putus asa menuntut runtuhnya rezim teokratis. Namun, jeritan itu dijawab dengan penindasan berdarah yang brutal.
Di balik tirai besi digital yang sengaja diturunkan oleh pemerintah, laporan-laporan mengerikan terus merembes keluar, melukiskan pemandangan neraka di mana kantong-kantong jenazah menumpuk di jalanan dan di luar rumah sakit yang telah kehabisan ruang.
Organisasi hak asasi manusia mencatat angka kematian resmi di atas 500 jiwa, tetapi angka ini diyakini hanyalah puncak dari gunung es. Sebuah laporan dari majalah TIME, berdasarkan data dari rumah sakit di Teheran dan perhitungan kelompok independen, menyajikan sebuah perkiraan yang jauh lebih mengerikan, yaitu jumlah korban tewas dikhawatirkan telah melampaui 6.000 orang.
Video-video yang berhasil lolos dari sensor pemerintah menampilkan adegan-adegan yang tak terbayangkan. Di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak, puluhan kantong jenazah hitam berjejer di tepi jalan, menanti untuk diidentifikasi oleh keluarga yang histeris. Di media sosial, gambar-gambar serupa beredar dengan keterangan yang menyayat hati.
Kesaksian para penyintas melukiskan gambaran yang lebih kelam. "Darah ada di mana-mana di jalanan, truk militer sedang mengangkut mayat," ujar seorang sumber di Teheran.
Seorang perawat menggambarkan pemandangan di dalam rumah sakitnya di mana mayat menumpuk seperti gunung, layaknya zona perang. Ironisnya, di tengah pertumpahan darah ini, pemerintah justru mengumumkan masa berkabung nasional untuk para martir yang mereka klaim gugur dalam pertempuran melawan Amerika dan Israel.
Di panggung internasional, ketegangan semakin memuncak. Amerika Serikat telah memperingatkan kemungkinan adanya tindakan, yang dibalas dengan ancaman dari Iran untuk menargetkan fasilitas militer AS dan Israel di Timur Tengah.
Sementara para pemimpin dunia saling melempar ancaman, rakyat Iran terus menghadapi moncong senjata sendirian, berharap dunia akan segera bertindak sebelum lebih banyak nyawa melayang dalam keheningan.