(Taiwan, ROC) – Industri perhotelan dan penginapan kerap memanfaatkan momen konser untuk menaikkan harga kamar mereka. Setelah boyband top Korea Selatan, BTS pada Selasa (13/1) malam mengumumkan jadwal tur dunia 2026, dengan rencana menggelar konser selama 3 hari pada bulan November mendatang di Kaohsiung, beredar sebuah tangkapan layar grup humas hotel di internet yang berisikan pemberitahuan agar segera menutup pemesanan dan menaikkan harga.
Selain itu, ada pula warganet yang menemukan bahwa meskipun konser masih berjarak 10 bulan, saat mencoba memesan kamar di sekitar Stadium Nasional Kaohsiung melalui berbagai situs pemesanan, langsung muncul pemberitahuan “96% penginapan di situs ini tidak tersedia pada tanggal yang Anda pilih.”
Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Pariwisata Kota Kaohsiung, Gao Min-lin (高閔琳) menyatakan pihaknya pada tengah malam kemarin telah mengumpulkan bukti terkait insiden tersebut. Pihaknya juga telah memberitahukan asosiasi hotel, seluruh penginapan, serta platform OTA untuk mematuhi peraturan secara ketat, dan akan segera memulai inspeksi terhadap usaha penginapan. Dirinya meminta masyarakat dan warganet untuk tenang, karena pelaku pelanggaran akan ditindak tegas tanpa ampun.
Menanggapi viralnya tudingan di jejaring internet terkait konser BTS, seperti “Hotel di Kaohsiung menaikkan harga secara tidak wajar” dan “tarif menginap semalam melonjak menjadi NT$18.000”, Gao Min-lin (高閔琳) langsung turun merespons keluhan para penggemar melalui Threads dan menegaskan perlunya membedakan secara jelas antara “kenaikan harga ilegal” dan “mekanisme pasar bebas”.
Gao Min-lin (高閔琳) menunjukkan, industri perhotelan di seluruh dunia memiliki perbedaan antara musim ramai dan sepi. Menurut peraturan Taiwan, “selama harga kamar tidak melebihi tarif yang dilaporkan ke pemerintah daerah (tarif terdaftar), maka itu sudah sesuai aturan”.
Dirinya kemudian memberikan contoh, jika sebuah hotel bintang lima internasional menawarkan suite eksekutif atau villa yang bisa disewa oleh banyak orang, tarif di atas NT$10.000 pada hari biasa dianggap wajar.
Namun, jika harga kamar dengan kelas rendah dan fasilitas buruk sengaja dinaikkan hingga “melebihi tarif terdaftar” dan dibebankan kepada konsumen, maka Biro Pariwisata akan menindaknya dengan tegas. Berdasarkan UU Pengembangan Pariwisata, pelaku bisa dikenai denda antara NT$10.000-50.000, dan bisa diperintahkan untuk melakukan perbaikan dalam jangka waktu tertentu, tergantung berat ringannya pelanggaran.