Selama puluhan tahun, kuning telur telah duduk di kursi pesakitan, dituduh sebagai biang kerok utama penyakit jantung dan kolesterol tinggi. Namun, sebuah penelitian sains berskala besar akhirnya menjatuhkan vonis yang mengejutkan, telur tidak bersalah!
Namun, putusan ini juga mengungkap dua faktor lain yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.
Dokter Spesialis Rehabilitasi, Wang Si-heng (王思恒), membeberkan bukti dari eksperimen monumental bernama DIABEGG. Dalam studi ini, pasien diabetes dibagi menjadi dua kubu, Kelompok Pro-Telur yang melahap hingga 2 butir telur setiap hari, dan Kelompok Kontra-Telur yang sangat membatasinya.
Setelah setahun, hasilnya membungkam para skeptis. Tidak ada perbedaan signifikan pada kadar kolesterol jahat (LDL), gula darah, maupun penanda peradangan pembuluh darah di antara kedua kelompok.
Putusan ini secara resmi membebaskan telur dari tuduhan yang telah lama melekat padanya. Kolesterol dalam telur terbukti bukanlah penyebab utama penyumbatan pembuluh darah. Namun, Dokter Wang Si-heng memberikan peringatan keras, yaitu cara Anda memasak telur adalah penentu antara sahabat atau musuh kesehatan.
Inilah dua faktor sesungguhnya yang harus dihindari, telur orak-arik mentega dan telur goreng. Metode memasak yang menggunakan banyak minyak jenuh dan panas tinggi inilah yang mengubah telur dari makanan super menjadi bom waktu kardiovaskular.
Sebaliknya, telur rebus, telur kukus, atau telur teh adalah pilihan juara yang aman dan menyehatkan. Bahkan, mengganti sarapan roti atau kue dengan telur rebus justru terbukti membantu menstabilkan gula darah. Pesan akhirnya jelas, jangan lagi takut pada telur, tapi waspadalah pada wajan dan mentega Anda.