Para konsumen dan penggemar jambu biji dihadapkan pada kelangkaan dan lonjakan harga yang signifikan di pasaran. Asosiasi Petani di Kecamatan Xizhou, Kabupaten Changhua, yang merupakan salah satu sentra produksi utama, melaporkan bahwa volume produksi saat ini anjlok hingga hanya tersisa 10% dari kondisi normal.
Situasi ini mendorong harga pembelian di tingkat petani menembus angka rata-rata NT$60 hingga NT$70 per kati, yang setara dengan harga eceran mencapai NT$170 per kilogram, sebuah rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Penurunan drastis pasokan ini merupakan dampak beruntun dari serangkaian peristiwa cuaca ekstrem. Hujan lebat yang dibawa Taifun Danas serta curah hujan tinggi pada Agustus tahun lalu menyebabkan banjir parah di lahan pertanian.
Akibatnya, sistem perakaran pohon jambu biji mengalami kerusakan, yang berujung pada tingkat pembuahan yang rendah dan kerontokan buah yang tinggi.
Upaya pemulihan oleh petani terhambat oleh datangnya cuaca dingin yang melambatkan pertumbuhan buah yang tersisa.
Seorang petani di wilayah tersebut melaporkan bahwa jadwal panen yang biasanya dilakukan setiap satu atau dua hari sekali, kini harus diperpanjang menjadi seminggu sekali.
Bahkan di kebun yang tidak terdampak banjir, cuaca dingin telah memangkas volume panen hingga kurang dari 20%. Kelangkaan ini membuat hasil panen menjadi rebutan para pedagang perantara.
Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani, Peng Hsien-fu (彭顯賦), industri jambu biji saat ini sedang berada dalam periode paceklik atau kekosongan pasokan.
Diperkirakan, buah muda yang saat ini sedang dalam proses pembungkusan baru akan siap panen menjelang Tahun Baru Imlek. Pada periode tersebut, produksi diharapkan akan kembali normal dan harga diprediksi akan stabil di kisaran yang lebih terjangkau bagi konsumen.