(Taiwan, ROC) – Presiden Lai Ching-te (賴清德) dalam pertemuan dengan Federasi Industri Taiwan (TFOI) hari ini (22/1) menyatakan, bantuan pemerintah untuk industri Taiwan tidak akan dihentikan hanya karena kesepakatan negosiasi tarif antara Taiwan-Amerika Serikat (AS). Presiden dan Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) akan terus berkomunikasi dengan pihak-pihak industri di berbagai kota dan kabupaten untuk memahami kebutuhan mereka yang berada di garis depan. Presiden juga percaya bahwa stabilitas dan ketahanan ekonomi Taiwan seharusnya tidak hanya berdiri di industri teknologi tinggi, tapi juga memprioritaskan peningkatan dan transformasi usaha kecil dan menengah (UKM) serta memperkuat keseluruhan struktur.
Dalam pidatonya, Presiden Lai menyampaikan, perubahan cepat dalam lingkungan ekonomi dan perdagangan global baru-baru ini, restrukturisasi rantai pasokan, peningkatan risiko geopolitik, dan kenaikan tarif AS telah menghadirkan tantangan bagi bisnis, dan pemerintah memahami tekanan yang mereka hadapi.
Presiden Lai juga menjelaskan, pencapaian pemerintah dan tanggapan dari negosiasi tarif dengan AS. Tidak hanya pengurangan tarif timbal balik dari awalnya 32% menjadi 15% tanpa tumpang tindih, selaras dengan Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa, tetapi Taiwan juga menjadi negara pertama di dunia yang mendapatkan perlakuan tarif preferensial berdasarkan Pasal 232. Di masa mendatang, semikonduktor dan turunannya akan dibebaskan dari tarif dalam batas tertentu, sementara furnitur kayu, suku cadang otomotif, dan komponen kedirgantaraan juga akan menerima tarif yang paling menguntungkan, mengurangi ketidakpastian industri dan memberikan ruang yang lebih besar untuk ekspansi bisnis. Lebih lanjut, kerja sama Taiwan-AS telah membangun "model Taiwan," yang memungkinkan perusahaan Taiwan untuk lebih mudah memperoleh infrastruktur utama seperti lahan, air, dan listrik ketika berinvestasi di AS, membentuk klaster industri dan memperdalam kerja sama melalui ekspansi dua arah, menciptakan situasi yang saling menguntungkan.
Presiden juga menyatakan, bahwa penyelesaian negosiasi tarif hanyalah langkah pertama dalam membantu industri. Penentu sebenarnya dari pembangunan industri jangka panjang terletak pada ketangguhan dan daya saing bisnis. Oleh karena itu, pemerintah telah mengusulkan program dukungan rantai pasokan ekspor sebesar NT$93 miliar, membantu bisnis dalam memperoleh pinjaman ekspor dan jaminan kredit untuk transformasi R&D, serta mempromosikan rencana revitalisasi yang beragam untuk UKM, membantu mereka memajukan aplikasi digital dan AI.
Presiden Lai juga menekankan, dirinya dan Perdana Menteri Cho Jung-tai akan berkunjung pedesaan untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak industri dan memahami kebutuhan mereka. Lai Ching-te mengatakan, “selanjutnya saya dan Cho Jung-tai, bersama jajaran kabinet akan terus berkomunikasi secara erat dengan berbagai kabupaten, kota, dan industri untuk memahami kebutuhan di garis depan, bekerja sama dengan industri untuk mengatasi berbagai tantangan. Saya sangat yakin bahwa stabilitas dan ketahanan ekonomi Taiwan tidak hanya dibangun di atas beberapa industri teknologi tinggi, tetapi juga pada peningkatan dan transformasi UKM serta penguatan kemampuan mereka. Ini adalah tujuan utama kami.”