Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Sepeda Lipat Andalan “Brompton” Rugi 45,3 Miliar Rupiah! Tapi Kenapa CEOnya Masih Bisa Tersenyum?

22/01/2026 15:56
Penulis & Editor: Aditya Nugraha
(Foto: Brompton)
(Foto: Brompton)

(Taiwan, ROC) -- Di era sekarang, bahkan “Brompton” yang digadang-gadang paling berkelas di dunia sepeda pun harus menghadapi kenyataan pahit. Dalam laporan keuangan tahunan terbaru, pabrikan sepeda lipat premium asal London tersebut mencatat kerugian sebesar 2,08 juta pound sterling (sekitar 45,3 miliar rupiah), dengan volume penjualan yang juga turut turun sebesar 7,5%.

Meski angka-angka tersebut terlihat cukup dingin, CEO Brompton Will Butler-Adams dengan elegan menyebut tahun ini sebagai “tahun yang seimbang”. Dalam bahasa sederhananya, meski sempat tergelincir karena tantangan pasar, tetapi Brompton berhasil bangkit kembali dengan penuh gaya berkat larisnya model-model baru.

 

Penjualan Turun ke Titik Terendah dalam Empat Tahun, Dampak “Mabuk Pascapandemi”?

Laporan keuangan yang mencakup periode hingga akhir Maret 2025 menunjukkan bahwa total penjualan tahunan Brompton turun menjadi 78.530 unit, merupakan level terendah sejak 2021.

Sang CEO mengaitkan kondisi ini dengan ketidakpastian ekonomi global, serta persaingan ketat yang masih berlangsung di industri sepeda. Pascapandemi, pasar dibanjiri stok berlebih dan diskon besar-besaran, sehingga para dealer menjadi jauh lebih berhati-hati dalam melakukan pemesanan.

Singkatnya, daya beli konsumen masih tertekan dan minat untuk membeli sepeda baru baru pulih secara bertahap.

 

Sepeda Lipat Off-Road G Line Selamatkan Penjualan, Strategi Premium Berhasil!

Meski total penjualan menurun, pendapatan Brompton hanya turun tipis kurang dari 1%, berkat kecintaan para penggemar terhadap model-model “premium”.

Model G Line yang diluncurkan di Eropa pada musim gugur lalu, tampil memukau dan dalam satu kuartal saja dikabarkan sudah menyumbang sebesar 9% dari total penjualan. Hal ini membuktikan bahwa para penggemar Brompton tidak hanya suka mengayuh sepeda sambil mengenakan jas, tetapi juga ingin menyusuri jalur yang menantang dan berlumpur dengan sepeda lipat mereka.

Ditambah lagi dengan model mewah seperti T Line yang berbahan titanium, harga rata-rata per sepeda meningkat signifikan, sehingga mampu menutupi sebagian dampak penurunan volume penjualan.

 

Asia Barulah Cinta Sejati Brompton, Produk Inggris dengan Jiwa Asia?

Yang menarik, meskipun Brompton adalah merek asli Inggris, tetapi pasar inti mereka kini sudah bergeser ke Asia. Data menunjukkan jikalau wilayah Asia Pasifik menyumbang hingga 47% dari total pendapatan, sementara pasar domestik Inggris hanya sebesar 11% saja.

Bagi para penggemar Brompton di Asia, sepeda lipat ini bukan sekedar kendaraan, melainkan “simbol gaya hidup”. Meski seri G Line baru diluncurkan di Asia pada Oktober 2025 dan datanya belum tercermin dalam laporan keuangan kali ini, tetapi dapat diprediksi jika pasar Asia akan tetap menjadi penyelamat utama brand ini pada tahun depan.

 

Menatap Masa Depan: Setelah Dilipat, Saatnya Dibuka

Meski menghadapi kerugian akhir sebesar 2 juta pound sterling *dua kali lipat dari kerugian pada tahun lalu, CEO Brompton tetap optimis. Seiring dengan berakhirnya penyesuaian stok di industri sepeda dan peluncuran penuh G Line di pasar baru seperti Asia, Brompton siap menyambut cahaya di balik awan pada 2026.

Bagaimanapun, bagi merek yang mampu melipat sepedanya dengan begitu sempurna, mengurangi sedikit kerugian di laporan keuangan dan membuka kembali model profitabilitas mungkin hanya soal waktu saja.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解