Periode cuaca cerah dan stabil di Taiwan akan segera berakhir, seiring Ditjen Klimatologi Sentral (CWA) memprediksi datangnya dua gelombang udara dingin secara berurutan dalam sepekan ke depan. Para pakar klimatologi memperingatkan adanya penurunan suhu yang signifikan, dengan gelombang kedua berpotensi mencapai level massa udara dingin kontinental kuat. Masyarakat diimbau untuk waspada dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan cuaca yang drastis.
Menurut analisis pakar klimatologi Wu De-rong (吳德榮), cuaca pada hari Senin (26/1) masih relatif stabil dengan langit cerah berawan di sebagian besar wilayah. Namun, ia menekankan adanya perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam. Kondisi nyaman ini akan mulai berubah pada Selasa (27/1) pagi, saat gelombang udara dingin pertama yang membawa angin monsun timur laut mulai bergerak ke selatan. Suhu akan turun secara bertahap, disertai peningkatan awan dan potensi hujan di wilayah utara dan timur Taiwan.
Puncak dingin dari gelombang pertama ini diperkirakan akan terjadi pada Rabu malam (28/1) hingga Kamis pagi (29/1), di mana stasiun pengamatan Taipei bisa mencatat suhu sekitar 15C, sementara area dataran rendah lainnya berpotensi mencapai suhu serendah 11C.
Sementara itu, pakar klimatologi Lin De-en (林得恩) dalam analisisnya menyoroti kedatangan gelombang udara dingin kedua yang lebih kuat, yang dijadwalkan tiba mulai hari Sabtu (31/1). Gelombang kedua ini diperkirakan akan memiliki durasi pengaruh yang lebih lama, setidaknya 3 hingga 4 hari, dengan intensitas yang berpeluang mencapai level massa udara dingin kontinental kuat. Puncak terdingin dari gelombang kedua ini diprediksi akan terjadi pada hari Minggu (1/2) hingga Senin (2/2) dini hari, dengan pola cuaca dominan dingin dan basah.
Setelah serangkaian gempuran udara dingin ini, simulasi model cuaca jangka panjang menunjukkan adanya perbaikan kondisi. Mulai Selasa (3/2) dan Rabu (4/2) pekan depan, angin monsun timur laut diperkirakan akan melemah, memungkinkan cuaca untuk kembali membaik dan suhu udara berangsur naik. Meskipun demikian, para ahli tetap mengingatkan masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi cuaca terbaru dan menyesuaikan pakaian serta aktivitas sehari-hari, mengingat fluktuasi suhu yang cepat dalam periode transisi ini.