Pasar keuangan global mengalami guncangan signifikan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve yang dikenal memiliki pandangan hawkish (pendukung kebijakan moneter ketat), sebagai calon Ketua The Fed yang baru. Nominasi ini secara instan mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS, memicu penguatan tajam Dolar AS dan menyebabkan aksi jual masif di pasar logam mulia.
Harga emas dan perak, yang sebelumnya terus mencetak rekor kenaikan, anjlok drastis pada penutupan perdagangan tanggal 30 Januari 2026. Harga emas spot di New York jatuh 8,9% ke level US$ 4.894,23 per ons, setelah sempat mengalami penurunan intraday lebih dari 12%, yang merupakan penurunan harian terdalam sejak awal 1980-an.
Pasar perak bahkan mengalami kejatuhan yang lebih parah, dengan harga runtuh 36% selama sesi perdagangan sebelum ditutup dengan penurunan 26% di level US$ 85,2 per ons.
Analis pasar menilai bahwa reputasi Kevin Warsh sebagai figur yang kuat dalam melawan inflasi membuat investor merevisi ekspektasi mereka, mengurangi kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga di masa depan. Hal ini mendorong Indeks Dolar (DXY) bangkit dari titik terendah empat tahun terakhir, yang pada gilirannya memberikan tekanan jual yang luar biasa pada aset yang dihargai dalam US$ seperti emas dan perak.
Beberapa ahli strategi pasar, seperti dari DBS Group, berpendapat bahwa pasar logam mulia memang sudah berada dalam kondisi jenuh beli (overbought) yang parah setelah reli panjang yang didorong oleh ketegangan geopolitik.
Indikator teknis seperti Relative Strength Index (RSI) emas yang sempat melonjak ke level 90 telah memberikan sinyal peringatan. Nominasi Kevin Warsh kemudian menjadi pemicu yang sempurna bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung.
Meskipun terjadi koreksi tajam, beberapa analis meyakini tren jangka panjang diversifikasi investasi yang menopang harga emas tidak berubah, tetapi pasar diperkirakan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat.