Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Pemerintah Akan Bekukan Rekening Pekerja Migran Pasca-Kontrak untuk Perangi Rekening Bodong  

04/02/2026 13:10
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Pemerintah Akan Bekukan Rekening Pekerja Migran Pasca-Kontrak untuk Perangi Rekening Bodong (PIXABAY)
Pemerintah Akan Bekukan Rekening Pekerja Migran Pasca-Kontrak untuk Perangi Rekening Bodong (PIXABAY)

Dalam sebuah langkah strategis untuk membendung gelombang penipuan perbankan, Komisi Pengawas Keuangan (FSC) Taiwan bersama sejumlah kementerian terkait telah mengumumkan kebijakan baru yang menargetkan rekening bank milik pekerja migran.

Aturan ini dirancang untuk secara otomatis membekukan rekening ketika teridentifikasi salah satu dari empat kondisi, masing-masing berakhirnya masa kontrak kerja, pemutusan kontrak dan kepulangan ke negara asal, kehilangan kontak (kabur), atau penahanan akibat bekerja secara ilegal.

Kebijakan ini diambil setelah data menunjukkan bahwa lebih dari 70% rekening boneka (rekening perantara penipuan) yang baru teridentifikasi belakangan ini berasal dari rekening yang terdaftar atas nama pekerja migran.

Pihak berwenang menjelaskan bahwa metode pembekuan rekening dipilih alih-alih penutupan total, sebagai pertimbangan atas kemungkinan pekerja migran tersebut kembali ke Taiwan untuk bekerja di masa depan. Langkah ini dinilai dapat mencegah kerumitan administratif jika mereka harus membuka rekening baru. Untuk memastikan hak-hak pekerja migran tetap terlindungi, mekanisme khusus telah disiapkan.

Segala bentuk pembayaran yang tertunda, seperti sisa gaji, subsidi, atau pengembalian pajak, akan diproses melalui penerbitan cek atas nama pekerja yang bersangkutan.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat keamanan sistem perbankan. Sebelumnya, Kementerian Keuangan (MOF) telah menggelar diskusi dengan bank-bank milik negara untuk menjajaki berbagai langkah preventif, termasuk wacana untuk mewajibkan nasabah memperlihatkan seluruh wajah (tanpa masker, helm, atau penutup lainnya) saat melakukan penarikan tunai di ATM.

Menanggapi hal ini, FSC menyatakan dukungan pada prinsipnya terhadap penerapan sistem pengenalan wajah sebagai mekanisme peringatan, tetapi dengan mempertimbangkan tiga faktor krusial, yakni akurasi teknologi, biaya instalasi pada mesin ATM, dan tingkat penerimaan dari masyarakat.

Saat ini, beberapa bank telah secara proaktif mengimplementasikan sistem peringatan suara pada ATM jika mendeteksi pengguna yang menutupi wajah. FSC berencana untuk mengadakan pertemuan lanjutan guna membahas kelayakan penerapan kebijakan ini secara lebih luas.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解