Universitas Sains dan Teknologi Ming Chi (MCUT) kembali melaksanakan program tahunan winter camp selama empat hari berturut-turut. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif University Social Responsibility (USR) yang ditujukan bagi 24 siswa kelas 4 hingga 6 SD dari wilayah Taishan, Xinzhuang, dan Wugu.
Program yang telah berjalan selama lima tahun ini bertujuan memberikan pengalaman belajar di luar ruang kelas formal dengan fokus pada pelestarian budaya, kesadaran lingkungan, dan pengenalan keberagaman global.
Pengenalan Wayang Kulit dan Budaya Asia Tenggara
Pada penyelenggaraan tahun ini, kebudayaan Indonesia menjadi salah satu materi utama melalui tema Wayang Kulit dan permainan tradisional. Guru Budaya Hanny Tsao (曹寒妮) memandu para siswa untuk mempelajari sejarah, filosofi, serta karakter dalam pewayangan.
Metode pembelajaran dilakukan secara bertahap, dimulai dari sesi tanya jawab mengenai karakter tokoh, dilanjutkan dengan aktivitas mewarnai wayang kertas. Sebagai evaluasi pembelajaran, setiap regu diminta menyusun dan mementaskan drama singkat berdurasi lima menit menggunakan wayang yang telah mereka buat.
Selain budaya Indonesia, para peserta juga diperkenalkan pada keragaman tradisi dari negara Asia Tenggara lainnya, seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, Myanmar, dan Kamboja. MCUT melibatkan mahasiswa internasional asal negara-negara tersebut untuk berinteraksi langsung dengan siswa melalui presentasi dan permainan interaktif.

Keseruan peserta dalam winter camp dari MCUT, anak-anak terlihar antusias memainkan wayang dari Indonesia.
Edukasi Lingkungan dan Ekosistem Lokal
Selain aspek budaya, kurikulum kemah ini mencakup pengenalan alam melalui kegiatan pendakian ke Gunung Guanyin. Aktivitas ini dirancang untuk mengenalkan ekosistem lokal secara langsung sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sejak usia dini. Para siswa juga diajak mengunjungi berbagai fasilitas di kompleks kampus untuk memahami nilai-nilai pelestarian budaya lokal.

Anak-anak diajar mengenali karakter wayang dengan diajak mewarnai sesuai dengan imajinasi masing-masing
Konsistensi Program dan Respon Masyarakat
Cheng Ya-yun (鄭雅雲), perwakilan dari General Education Center MCUT, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi anak-anak lokal maupun generasi kedua imigran baru. Melalui interaksi nyata selama empat hari, siswa diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai perbedaan budaya dengan cara yang sederhana.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini tergolong tinggi, terlihat dari banyaknya orang tua yang aktif menanyakan jadwal pendaftaran menjelang masa liburan sekolah. MCUT berkomitmen untuk terus melanjutkan agenda rutin ini sebagai bentuk kontribusi universitas dalam membangun masyarakat yang memiliki wawasan luas dan toleransi budaya.