Di tengah tingginya harga properti di Taipei, bangunan perumahan tua seringkali dianggap sebagai alternatif yang lebih terjangkau bagi para pencari rumah. Namun, data terbaru dari Department of Land Administration Pemerintah Kota Taipei mengungkap sebuah paradoks yang mengejutkan, meskipun lebih murah, justru tipe hunian inilah yang mengalami koreksi harga paling tajam.
Pakar properti, He Shi-chang (何世昌), secara lugas menyatakan bahwa keunggulan harga murah pada bangunan tua kini tidak lagi mampu bersaing dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh gedung-gedung bertingkat modern.
Menurut data statistik, selama periode koreksi harga dalam setahun terakhir, harga apartemen di Taipei anjlok sekitar 7,05%, penurunan paling drastis dibandingkan jenis hunian lainnya. Saat ini, harga rata-rata bangunan tua hanya sekitar 60% dari harga gedung bertingkat baru.
He Shi-chang menganalisis bahwa fenomena ini menunjukkan pergeseran preferensi pembeli yang signifikan. Meskipun banyak yang mengeluhkan kecilnya luas riil pada bangunan baru akibat porsi besar untuk fasilitas umum, tindakan mereka saat membeli membuktikan hal sebaliknya. "Saat membeli rumah, tindakan sering kali lebih jujur daripada perkataan," ujarnya.
Fasilitas modern seperti lift, lobi dengan resepsionis untuk menerima paket, dan sistem keamanan 24 jam terbukti menjadi daya tarik utama yang membuat gedung bertingkat lebih diminati, terutama oleh kaum muda, pekerja, dan lansia. Akibatnya, harga properti jenis ini cenderung lebih stabil. Di sisi lain, daya saing bangunan tua semakin menurun, dengan satu-satunya harapan tersisa terletak pada potensi proyek pembaruan kota (rekonstruksi).
Namun, He Shi-chang mengingatkan bahwa harapan ini seringkali seperti lotre, prosesnya sangat rumit dan melibatkan banyak pihak, sehingga banyak pemilik yang menunggu seumur hidup tanpa pernah melihatnya terwujud.