Serangan gelombang dingin yang melanda Taiwan telah memakan korban. Di Kabupaten Changhua, tiga kasus henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) yang melibatkan lansia dilaporkan terjadi dalam kurun waktu 24 jam, bertepatan dengan anjloknya suhu udara secara drastis.
Insiden ini menjadi pengingat tragis akan bahaya cuaca ekstrem, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan. Dirjen Klimatologi Sentral (CWA) telah mengeluarkan peringatan suhu rendah untuk 21 kabupaten dan kota, dengan prediksi suhu dapat turun di bawah 10C di berbagai wilayah.
Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Changhua mengonfirmasi bahwa ketiga pasien OHCA non-trauma tersebut terdiri dari dua pria berusia 60 dan 62 tahun, serta seorang wanita berusia 83 tahun. Saat tim medis tiba di lokasi kejadian yang terpisah, ketiganya ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernapas dan tidak memiliki detak jantung. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat. Pihak berwenang menekankan bahwa status OHCA tidak sama dengan kematian mendadak, karena pasien masih memiliki peluang untuk diselamatkan melalui intervensi medis di rumah sakit. Penyebab pasti dari setiap insiden masih menunggu konfirmasi dari pihak dokter.
Menanggapi insiden ini, otoritas kesehatan kembali mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode gelombang dingin. Perhatian khusus harus diberikan kepada para lansia, penderita penyakit kronis, dan individu dengan riwayat penyakit kardiovaskular.
Masyarakat, terutama kelompok berisiko, disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada pagi hari dan larut malam ketika suhu mencapai titik terendah. Langkah-langkah sederhana seperti mengenakan pakaian hangat berlapis, serta memastikan kepala, leher, dan kaki tetap hangat, menjadi krusial untuk mencegah hipotermia dan komplikasi kesehatan serius lainnya yang dapat dipicu oleh suhu dingin yang ekstrem.