(Taiwan, ROC) -- Menanggapi Parlemen Eropa yang meloloskan “Kemitraan Strategis Pertahanan dan Keamanan Uni Eropa, 2025/2119” yang menekankan perlunya Uni Eropa memperdalam kerja sama keamanan dan pertahanan dengan Taiwan, serta menyoroti tantangan yang ditimbulkan Tiongkok terhadap keamanan Eropa dan kawasan Indo-Pasifik, Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung (林佳龍) pada hari ini (13/2) menyampaikan sambutan dan apresiasi yang tulus. Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong pertukaran keamanan Taiwan-Eropa dan kerja sama industri pertahanan, guna bersama-sama menjaga tatanan internasional berbasis aturan.
Sidang pleno Parlemen Eropa yang digelar pada Rabu (11/2) lalu mengesahkan laporan “Kemitraan Strategis Pertahanan dan Keamanan Uni Eropa, 2025/2119”. MOFA mengemukakan bahwa laporan tersebut disusun oleh Komite Keamanan dan Pertahanan Parlemen Eropa (SEDE), yang bertujuan untuk mendorong kemitraan keamanan dan pertahanan Uni Eropa.
MOFA menyampaikan terima kasih atas dukungan nyata Parlemen Eropa terhadap pendalaman kerja sama keamanan dan pertahanan antara Taiwan dan Uni Eropa. Taiwan ke depannya akan terus mendorong pertukaran keamanan serta kerja sama industri pertahanan dengan Eropa, guna bersama-sama menjaga tatanan internasional berbasis aturan serta menghadapi ancaman dan tantangan baru dalam situasi global.
Laporan “Kemitraan Strategis Pertahanan dan Keamanan Uni Eropa, 2025/2119” menyebutkan bahwa ketergantungan Uni Eropa terhadap Negeri Panda dalam hal bahan baku penting merupakan kerentanan geopolitik dan ekonomi yang signifikan. Mengingat dukungan Negeri Tirai Bambu terhadap ekonomi perang Rusia, Uni Eropa perlu meninjau kembali langkah-langkah seperti pengurangan risiko (de-risking).
Laporan tersebut juga secara langsung menyebutkan bahwa Republik Rakyat Tiongkok merupakan pihak yang turut memfasilitasi dan mendukung perang agresi Rusia, sehingga Uni Eropa harus merespons persaingan strategis yang datang dari Pemerintah Beijing secara tepat.