Mitos bahwa Taipei akan berubah menjadi kota mati selama libur panjang Tahun Baru Imlek tampaknya mulai terpatahkan. Seorang warganet membagikan pengamatannya di pusat kota Taipei pada malam sehari sebelum malam tahun baru, di mana ia terkejut menemukan keramaian yang tidak berkurang secara signifikan, memicu perdebatan mengenai perubahan pola mobilitas penduduk selama musim perayaan.
Unggahan tersebut memicu diskusi hangat, dengan banyak warganet lain yang turut berbagi pandangan. Sebagian besar setuju bahwa puncak kesepian di Taipei biasanya baru terasa pada hari Malam Tahun Baru hingga hari kedua Imlek.
Namun, banyak pula yang merasa bahwa jumlah orang yang pulang kampung memang semakin berkurang dari tahun ke tahun. Analisis lebih lanjut dari para warganet menunjuk pada dua faktor utama yang mendasari fenomena ini.
Pertama, perubahan struktur keluarga dan demografi. Seiring berjalannya waktu, banyak generasi yang lebih tua di wilayah selatan telah tiada, sehingga ikatan emosional dan kewajiban untuk pulang kampung pun berkurang bagi generasi yang lebih muda yang telah menetap di Taipei.
Kedua, faktor kepraktisan. Kemacetan parah yang selalu menjadi momok selama arus mudik membuat banyak orang enggan menempuh perjalanan jauh yang melelahkan. Kombinasi dari kedua faktor ini, yang merupakan cerminan dari urbanisasi dan perubahan sosial, secara bertahap mengubah lanskap demografis Taipei selama periode liburan terpenting dalam kalender Tionghoa.