Dari sekian kemungkinan dan pilihan, dan untuk alasan tertentu, saya mendatangi Taipingyang Park atau Nanbin Park di Hualien, Taiwan, Jumat (6/2/2026) malam.
Ini bukan pertama kalinya saya datang ke taman di tepi samudera Pasifik tersebut.
Namun berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, kali ini saya datang untuk bermalam.
Dan bermalamnya saya di sana bukan seperti layaknya wisatawan yang datang untuk berkemah atau menginap di hotel.
Bersama beberapa warga lokal yang terpaksa menjadi tunawisma atau homeless, saya bermalam di bangunan auditorium tanpa dinding yang berdiri di sisi utara gerbang Taipingyang Park.
Di auditorium ini ada lima undakan dengan bentuk berkelok-kelok. Undakan ini juga berfungsi sebagai tempat duduk permanen apabila ada pertunjukan digelar di auditorium tersebut.
Tempat duduk permanen ini mengitari bidang datar yang cukup luas. Saat saya datang sekitar pukul 20.30 waktu Taiwan, sepasang muda-mudi sedang asyik bermain badminton di bidang datar itu. Mereka tak merasa terganggu oleh 4 pria tunawisma yang sudah bersiap-siap tidur menyebar di atas undakan. Demikian sebaliknya, empat pria tunawisma itu pun tak merasa terganggu oleh kehadiran sepasang muda-mudi tadi.
Sambil duduk, di undakan paling atas, saya mengamati pemandangan tersebut. Dari 4 pria tunawisma, dapat saya lihat bahwa 3 di antaranya adalah lansia. Sedangkan satu orang lainnya tampak lebih muda. Kira-kira 40-an tahun usianya.
Dari empat orang itu, tiga orang mengambil posisi di undakan yang sama, yakni undakan paling bawah. Jarak mereka masing-masing hanya kira-kira satu meter. Masing-masing sudah berbaring berselimut kain kusam.
Di dekat mereka terparkir sebuah skuter listrik dan dua sepeda angin. Selain itu, beberapa bungkusan kresek juga terserak di sekitar mereka. Isinya sudah tentu barang-barang pribadi mereka,
Sedangkan satu orang lainnya, mengambil posisi di undakan paling atas. Pria yang tampaknya berusia 60-an tahun ini mengenakan sleeping bag biru dan berbantalkan tas ransel. Di sampingnya, terparkir skuter tua berwarna perak kusam.
Saat itu cuaca sedang gerimis. Sambil menikmati kopi yang saya bawa dari rumah, saya menyaksikan bagaimana pasangan muda-mudi tadi bermain bulutangkis. Sekitar pukul 21.00, keduanya sepakat mengakhiri permainan dan berlalu pergi dengan kendaraan masing-masing.
Kini tinggallah saya dan empat tunawisma di tempat itu. Setelah kopi dalam botol tandas, saya buka tas ransel dan mengeluarkan selembar sarung dari dalamnya. Sarung itu saya pakai untuk menutupi bagian kepala hingga perut, melapisi jaket tebal yang sudah saya pakai semenjak dari rumah.
Dari balik sarung, cahaya lampu yang berganti-ganti warna setiap detik, masih dapat terlihat. Tak lama kemudian, saya pun tertidur sambil berbantal tas ransel.
Sekitar pukul 00.30, saya terbangun. Gerimis masih ada. Tapi kali ini angin terasa lebih kencang dan dingin. Saking kencangnya, sarung yang menutupi wajah saya pun tersingkap. Dinginnya memaksa saya bangun.
Saat saya bangun, saya melihat ada seorang pria lainnya yang sedang tertidur dalam posisi bersimpuh dengan perut dan dadanya bersandar pada bidang vertikal pada undakan.
Sementara kepalanya yang terlindungi oleh tudung baju hangat, menempel pada bidang datar undakan. Dua tangan pria tersebut juga menutupi wajahnya. Mungkin untuk melindungi dari dingin.
Sekitar setengah meter dari posisinya tertidur, ada kursi roda. Dengan membandingkan arah kursi roda yang menghadap ke barat dan si pemilik yang menghadap ke utara, saya menduga dia cukup berjuang untuk turun dari kursi roda itu dan mendapatkan posisinya untuk tidur di undakan.
Saat angin kembali bertiup, saya dapat mencium aroma pesing yang cukup mengganggu.
Terus terang, sampai kini saya masih dapat mengingat betapa tidak nyamannya aroma ini.
Anehnya, lima orang di sekitar saya ini sama sekali tak terganggu. Mereka tetap nyaman tidur di balik selimut masing-masing. Saya berusaha untuk kembali tidur, tetapi selalu gagal. Sebab angin terasa semakin dingin, membuat aroma pesing juga tercium semakin kuat.
Pertanyaan saya berbulan-bulan lalu ketika melihat para tunawisma tidur berderet di luar gedung Taipei Main Station pun akhirnya terjawab. Ternyata begini rasanya menjadi tunawisma di Taiwan ketika musim dingin tiba. Tanpa pakaian hangat dan perlindungan lainnya yang memadai, kesehatan dan nyawa mereka pun terancam. Saya jadi tak merasa heran ketika diberitakan bahwa ada puluhan orang di Taiwan meninggal karena serangan gelombang dingin ekstrem.
Menjelang subuh, saya berjalan menyusuri jalanan kota Hualien menuju stasiun agar dapat mengejar kereta lokal yang dijadwalkan berangkat pukul 07.53. Kereta ini akan membawa saya pulang. Seperti diprediksikan dan diperingatkan sebelumnya, dalam perjalanan, udara terasa semakin dingin. Angin pun terasa makin kencang.
Di sepanjang perjalanan, saya tak melihat ada tunawisma yang berani tidur di ruang terbuka. Namun, ketika melongok ke sebuah bilik ATM yang saya lewati, saya melihat ada seorang pria tunawisma tertidur cukup nyaman. Mungkin di ruangan itu lebih terasa hangat dibanding di luar.
Penulis: Eben Haezer