Kemarin (18/2) adalah perayaan tahun baru imlek hari kedua, Komisi Kesetaraan Gender Yuan Eksekutif mengatakan, penerapan kesetaraan gender tidak hanya berwujud dalam perumusan dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menghancurkan stereotip gender seperti “anak perempuan hanya boleh kembali le rumah orang tua pada hari kedua tahun baru imlek”, atau “menantu perempuan yang harus dibebankan semua pekerjaan rumah tangga selama perayaan tahun baru imlek”.
Komisi Kesetaraan Gender Yuan Eksekutif mengatakan, menurut “survei jajak pendapat via telepon terkait konsep kesetaraan gender tahun 2025”, terdapat 84,9% responden tidak menyetujui pandangan seperti “istri wajib menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan rumah tangga daripada suami mereka”, proporsi tidak setuju mengalami peningkatan 12,4% dibandingkan pada tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan tradisional tentang pekerjaan rumah tangga semata-mata merupakan tanggung jawab perempuan secara berangsur-angsur mengalami perubahan.
Komisi Kesetaraan Gender Yuan Eksekutif menunjukkan, dalam tradisi tahun baru imlek modern, pada umumnya, perempuan masih memikul lebih banyak beban pekerjaan rumah tangga, atau menghadapi tekanan terkait pembatasan keluarga manakah yang diizinkan untuk dikunjungi selama perayaan tahun baru imlek, oleh karena itu, diharapkan agar berbagai kalangan bisa membangun budaya perayaan tahun baru imlek yang lebih adil.
Komisi Kesetaraan Gender Yuan Eksekutif mengatakan bahwa tradisi yang membatasi putri yang telah menikah kembali ke rumah orang tuanya, karena dianggap bisa memengaruhi keberuntungan pada pihak keluarga suami, namun hal ini tidak sejalan dengan nilai-nilai kesetaraan gender modern. Selama anggota keluarga berkomunikasi dan bermusyawarah, maka terlepas dari perayaan tahun baru imlek hari ke berapa, anak perempuan dapat kembali ke rumah orang tuanya atau mengundang orang tua kedua belah pihak untuk kumpul bersama, asalkan saling pengertian maka semua ini menjadi cara terbaik dalam merayakan tahun baru imlek.
Selain itu, pandangan tradisional seringkali menempatkan tanggung jawab yang berat pada perempuan sebagai “tukang masak”, akan tetapi semua pekerjaan rumah tangga mulai dari persiapan makanan, membersihkan rumah, dan berbelanja baik pada hari biasa atau perayaan tahun baru imlek, seharusnya dilakukan bersama oleh semua anggota keluarga, tanpa membedakan gender maupun usia.