Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu gelombang kepanikan di pasar keuangan global, yang berdampak langsung pada rontoknya bursa saham dan nilai tukar mata uang Taiwan. Indeks Saham Gabungan Taiwan (TAIEX) mengalami tekanan jual yang masif hingga ditutup melemah tajam sebesar 771 poin, sementara New Taiwan Dollar (NT$) terdepresiasi signifikan ke level 31,609 per US$1.
Sentimen penghindaran risiko mendominasi pasar, mendorong investor untuk memindahkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman seperti US$, yang mengakibatkan mata uang lokal tertekan ke level terendah dalam hampir satu bulan terakhir.
Data perdagangan menunjukkan adanya eksodus modal asing dalam skala yang luar biasa, mencatatkan sejarah baru dalam dinamika pasar modal Taiwan. Investor institusional asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai lebih dari NT$94,7 miliar angka yang tercatat sebagai aksi jual terbesar ketiga sepanjang sejarah bursa.
Tekanan ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi, menciptakan badai sempurna yang menghantam stabilitas nilai tukar, di mana NT$ anjlok 3,58 sen hanya dalam kurun waktu dua hari perdagangan.
Para analis memperingatkan bahwa tren pelemahan ini masih berpotensi berlanjut jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda. Bank Sentral Taiwan mencatat bahwa depresiasi ini adalah fenomena regional, di mana mata uang Asia lainnya seperti Yen, Renminbi, dan Won juga mengalami kejatuhan serentak terhadap US$. Pelaku pasar kini menanti apakah level psikologis NT$31,7 akan ditembus, serta memantau langkah intervensi Bank Sentral dan eksportir untuk menahan kejatuhan lebih lanjut di tengah ketidakpastian global yang kian pekat.