Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan koalisi Amerika Serikat-Israel dan Iran telah memicu krisis serius di pasar energi global, dengan harga bahan bakar pesawat (avtur) melonjak lebih dari 80%. Para analis memperingatkan bahwa lonjakan drastis ini akan berdampak langsung pada biaya perjalanan udara menjelang musim liburan musim panas, mengancam anggaran para wisatawan dan bahkan berpotensi menyebabkan pembatalan penerbangan secara massal.
Gangguan rantai pasokan di wilayah Teluk Persia, yang merupakan sumber utama avtur dunia, menjadi pemicu utama krisis ini. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 50% impor bahan bakar penerbangan Eropa, kini berada dalam status semi-tertutup. Akibatnya, harga avtur di Eropa Barat Laut yang semula berada di level US$830 per ton, kini telah meroket hingga menembus US$1.500 per ton. Ini menjadi rekor tertinggi sejak perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.
Meskipun banyak maskapai besar Eropa seperti British Airways dan Ryanair telah menerapkan strategi lindung nilai (fuel hedging) untuk mengunci harga bahan bakar di awal, tetapi mereka tidak sepenuhnya kebal dari krisis. Ancaman terbesar kini beralih dari masalah harga menjadi kekurangan pasokan fisik.
Para ahli memperingatkan bahwa bahkan dengan kontrak lindung nilai, maskapai akan kesulitan mendapatkan pasokan karena kilang minyak di Asia yang menjadi sumber alternatif juga mengalami pengurangan produksi akibat terhambatnya pasokan minyak mentah dari Teluk Persia.
Bagi para wisatawan, dampak dari krisis ini akan sangat terasa. Pakar perjalanan konsumen memprediksi bahwa maskapai penerbangan tidak punya pilihan selain membebankan kenaikan biaya ini kepada penumpang. Bagi keluarga yang belum memesan tiket untuk liburan musim panas, mereka harus bersiap menghadapi kenaikan harga yang signifikan.
Meskipun maskapai tidak dapat secara sepihak menaikkan harga tiket yang sudah dibeli, tekanan biaya ini akan membuat perjalanan ke luar negeri pada musim panas 2026 menjadi jauh lebih mahal, menjadi pukulan berat di tengah inflasi yang sudah menekan anggaran rumah tangga.