Richard Bookstaber, seorang pakar Wall Street yang dikenal akurat dalam memprediksi krisis keuangan 2008, kembali mengeluarkan peringatan keras. Dalam analisis terbarunya, ia menyatakan bahwa ekonomi global tengah memasuki sebuah era baru yang sarat dengan risiko sistematis, di mana krisis di masa depan berpotensi jauh lebih parah dan kompleks, dengan Taiwan disebut sebagai salah satu titik pemicu geopolitik utama.
Richard Bookstaber mengidentifikasi beberapa sumber risiko utama yang saling terkait, yaitu pasar kredit swasta yang buram, konsentrasi pasar saham yang ekstrem akibat demam kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Ia menyoroti bagaimana pasar kredit swasta senilai NT$2 triliun, yang tumbuh pesat sebagai alternatif pinjaman bank, memiliki transparansi dan likuiditas yang rendah, membuatnya rentan terhadap guncangan mendadak.
Secara spesifik, ia menunjuk Taiwan sebagai risiko kunci dalam skenario krisis global. Mengingat posisi dominan Taiwan dalam produksi semikonduktor canggih, setiap aksi militer atau blokade oleh Tiongkok akan secara seketika memutus pasokan cip global. Hal ini tidak hanya akan melumpuhkan penyebaran teknologi AI yang sangat bergantung pada komponen tersebut, tetapi juga akan memicu efek domino yang merambat ke seluruh rantai pasok industri global.
Ia menyimpulkan bahwa kerentanan sistem keuangan saat ini tidak lagi terbatas pada ranah finansial semata, melainkan telah terjalin erat dengan infrastruktur fisik dunia nyata, seperti jaringan listrik dan rantai pasok. Dalam sistem yang sangat terhubung ini, guncangan lokal, baik yang berasal dari pasar keuangan maupun peristiwa geopolitik di sekitar Taiwan, dapat menyebar dengan kecepatan kilat dan bermutasi menjadi krisis sistematis berskala global.