Pasar emas global dilanda tekanan jual yang signifikan, dengan harga emas internasional tercatat merosot selama tujuh hari perdagangan berturut-turut. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu gejolak di pasar energi telah secara drastis mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter global, mendorong harga emas anjlok hampir delapan persen sepanjang pekan ini dan mengarah pada kinerja mingguan terburuk dalam hampir enam tahun terakhir.
Koreksi tajam ini dipicu oleh serangkaian faktor negatif yang berkumpul dalam waktu singkat. Serangan balasan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak mentah dan gas alam. Kenaikan ini memperburuk kekhawatiran pasar terhadap laju inflasi, yang pada gilirannya hampir sepenuhnya memupus harapan akan adanya pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral utama dunia dalam waktu dekat.
Selain itu, penguatan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan apresiasi nilai tukar US$ semakin memperkeruh situasi. Kondisi ini memaksa sebagian investor untuk melikuidasi posisi mereka di pasar emas guna menutupi kerugian di sektor aset lainnya. Arus dana keluar yang deras dari produk investasi berbasis emas (ETF) juga turut memberikan tekanan jual tambahan, mengakibatkan harga logam mulia tersebut terperosok secara substansial.
Kinerja emas saat ini merefleksikan pola yang terjadi pada tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu guncangan energi serupa dan mengganggu pasar global. Para analis memperingatkan bahwa volatilitas pasar masih sangat tinggi, dan sebelum stabilitas kembali tercapai, potensi aksi jual lebih lanjut masih membayangi. Penurunan selama tujuh hari berturut-turut ini menandai periode pelemahan terpanjang sejak Oktober 2023, dengan penurunan mingguan yang berpotensi menjadi yang terbesar sejak Maret 2020.