Kementerian Pertahanan Nasional mengumumkan Kamis ini (2/4) latihan pos komando berbantuan komputer “Han Kuang 42” akan dimulai pada 11 April, latihan tempur yang akan berlangsung selama 14 hari 13 malam. Skenario ini juga menggabungkan pengalaman tempur dari konflik AS-Iran dan AS-Venezuela, serta verifikasi kemampuan kemampuan drone dan anti-drone. Pada “fase verifikasi tembakan riil” ditempatkan terakhir, kemampuan drone militer nasional dalam integrasi sistem, serangan aliansi, dan operasi lintas wilayah akan diuji.
Dalam konferensi pers hari Kamis ini (2/4) Kementerian Pertahanan Nasional menjelaskan bahwa latihan pos komando berbantuan komputer “Han Kuang 42” (simulasi perang komputer) akan dilaksanakan dari tanggal 11 - 24 April. Dengan memanfaatkan “Joint Theater Level Simulation (JTLS)”, akan berlangsung selama 14 hari dan 13 malam, latihan tempur mirip permainan perang di tingkat operasional ketiga angkatan bersenjata, mengasah kemampuan kepemimpinan, pengambilan keputusan, penilaian staf, dan perencanaan para komandan.
Direktur Operasi Gabungan Kemenhan, Tung Chi-hsing(董冀星) menjelaskan, skenario latihan dirancang berdasarkan ancaman musuh dan aksi militer internasional baru-baru ini, merencanakan agar Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) yang melancarkan “intervensi zona abu-abu”, “transisi dari latihan ke pertempuran”,dan “invasi militer ke Taiwan”. Sementara itu, Angkatan Bersenjata Taiwan membagi skenario menjadi beberapa fase seperti “respons situasi dan penyebaran kesiapan tempur”, “ perlindungan dan kekuatan tempur”,”operasi anti-pendaratan gabungan, serangan pantai, dan pertempuran di pantai”, dan “pertahanan berlapis dan peperangan berkelanjutan”.
Tung Chi-hsing menekankan, “Han Kuang 42” didasarkan pada pengalaman yang diperoleh dari “Han Kuang 41” yang dilaksanakan pada tahun 2025 dan dirumuskan sesuai dengan pedoman revisi Rencana Operasi Gabungan 2026. Selain itu, pengalaman tempur internasional, seperti AS-Iran serta AS-Venezuela, juga akan dicantumkan ke dalam skenario tersebut.
Tung Chi-hsing mengatakan, “termasuk peringatan dini dan respons tepat waktu. Berdasarkan inti ini, kami terus mengembangkan pentingnya intelijen, pengawasan, dan pengintaian gabungan, penanggulangan interferensi elektromagnetik, mencegah drone, pertahanan fasilitas militer penting, ketahanan pasokan listrik yang tangguh, dan pertahanan udara gabungan dan serangan balik benteng pertahanan garnisun”.
Karena program Han Kuang secara historis kurang berfokus pada penggunaan drone dan teknologi anti-drone, yang menuai kritik, ini akan menjadi area pengujian utama kali ini. Tung Chi-xing mengatakan, “Militer nasional akan menggabungkan berbagai senjata baru, termasuk tank M1A2T dan drone yang baru saja diperoleh, semuanya akan dicantumkan ke dalam skenario dan parameter desain kami saat ini, untuk dilakukan verifikasi.”
Tung Chi-hsing menjelaskan bahwa militer akan terus menguji berbagai senjata dalam program Han Kuang 42. Tindakan penanggulangan dan penerapan drone juga akan diverifikasi selama fase pengujian tembak riil terakhir untuk menilai pengoperasian sistemnya, daya tembak gabungan senjata, kemampuan penyebaran lintas wilayah, dan kemampuan untuk mengatasi keterbatasan operasional.