Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

CNN Soroti Tren "Rencana Pelarian" di Kalangan Warga Taiwan di Tengah Meningkatnya Ancaman Tiongkok  

06/04/2026 14:39
Penulis & Editor: Yunus Hendry
CNN Soroti Tren "Rencana Pelarian" di Kalangan Warga Taiwan di Tengah Meningkatnya Ancaman Tiongkok   (Unsplash)
CNN Soroti Tren "Rencana Pelarian" di Kalangan Warga Taiwan di Tengah Meningkatnya Ancaman Tiongkok  (Unsplash)

Sebuah laporan mendalam dari CNN menyoroti fenomena yang berkembang di kalangan sebagian masyarakat Taiwan, yakni penyusunan rencana pelarian sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman militer dari Tiongkok. Meskipun pemerintah Taiwan secara aktif memperkuat pertahanan nasional, sebagian warganya diam-diam mempersiapkan jalur evakuasi dengan mencari paspor kedua dan memindahkan aset ke luar negeri.

Laporan bertajuk As Taiwan steels its defenses against China, some are hatching escape plans ini mewawancarai beberapa warga yang telah mengambil langkah konkret. Salah satunya adalah Mr. Yeh, seorang profesional di sektor keuangan, yang telah membuka rekening bank di Singapura dan berhasil memperoleh paspor Turki untuk dirinya dan sang istri. "Meskipun kemungkinannya tidak tinggi, tetapi jika invasi benar-benar terjadi, kerugiannya akan sangat besar, jadi saya merasa harus memiliki rencana cadangan," ujarnya kepada CNN.

Ketidakpastian geopolitik global, terutama dengan semakin terperosoknya Amerika Serikat dalam konflik di Timur Tengah, turut menggoyahkan kepercayaan sebagian warga terhadap tatanan internasional. Yeh berpendapat bahwa dunia unipolar sedang runtuh, dan tidak ada satu negara besar pun yang mampu sepenuhnya mendominasi situasi. Pemikirannya sederhana, jika harus pergi, ia membutuhkan uang dan paspor.

Fenomena ini juga dirasakan oleh para konsultan imigrasi dan agen real estat di luar negeri. Mr. Lai, seorang agen real estat di Bangkok, mengungkapkan bahwa permintaan informasi properti dari warga Taiwan melonjak drastis, dengan sekitar 70% di antaranya didorong oleh kekhawatiran geopolitik.

"Teman-teman saya di Taiwan sering memberi tahu saya bahwa mereka memiliki firasat yang sangat kuat bahwa negara mereka akan segera jatuh," katanya.

Meskipun belum ada data statistik komprehensif mengenai jumlah warga yang memiliki rencana serupa, para konsultan imigrasi mengonfirmasi adanya pergeseran tren. Jika dulu tujuannya adalah imigrasi permanen ke negara-rata berbahasa Inggris, kini tujuannya lebih kepada diversifikasi risiko.

Banyak yang memilih jalur imigrasi investasi ke negara-negara seperti Saint Lucia atau Vanuatu untuk mendapatkan paspor kedua sebagai jaring pengaman. Ini tentunya cerminan dari rasa cemas yang diam-diam menyelimuti sebagian masyarakat di pulau yang terus hidup di bawah bayang-bayang konflik.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解