Sebuah laporan mendalam dari CNN menyoroti fenomena yang berkembang di kalangan sebagian masyarakat Taiwan, yakni penyusunan rencana pelarian sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman militer dari Tiongkok. Meskipun pemerintah Taiwan secara aktif memperkuat pertahanan nasional, sebagian warganya diam-diam mempersiapkan jalur evakuasi dengan mencari paspor kedua dan memindahkan aset ke luar negeri.
Laporan bertajuk As Taiwan steels its defenses against China, some are hatching escape plans ini mewawancarai beberapa warga yang telah mengambil langkah konkret. Salah satunya adalah Mr. Yeh, seorang profesional di sektor keuangan, yang telah membuka rekening bank di Singapura dan berhasil memperoleh paspor Turki untuk dirinya dan sang istri. "Meskipun kemungkinannya tidak tinggi, tetapi jika invasi benar-benar terjadi, kerugiannya akan sangat besar, jadi saya merasa harus memiliki rencana cadangan," ujarnya kepada CNN.
Ketidakpastian geopolitik global, terutama dengan semakin terperosoknya Amerika Serikat dalam konflik di Timur Tengah, turut menggoyahkan kepercayaan sebagian warga terhadap tatanan internasional. Yeh berpendapat bahwa dunia unipolar sedang runtuh, dan tidak ada satu negara besar pun yang mampu sepenuhnya mendominasi situasi. Pemikirannya sederhana, jika harus pergi, ia membutuhkan uang dan paspor.
Fenomena ini juga dirasakan oleh para konsultan imigrasi dan agen real estat di luar negeri. Mr. Lai, seorang agen real estat di Bangkok, mengungkapkan bahwa permintaan informasi properti dari warga Taiwan melonjak drastis, dengan sekitar 70% di antaranya didorong oleh kekhawatiran geopolitik.
"Teman-teman saya di Taiwan sering memberi tahu saya bahwa mereka memiliki firasat yang sangat kuat bahwa negara mereka akan segera jatuh," katanya.
Meskipun belum ada data statistik komprehensif mengenai jumlah warga yang memiliki rencana serupa, para konsultan imigrasi mengonfirmasi adanya pergeseran tren. Jika dulu tujuannya adalah imigrasi permanen ke negara-rata berbahasa Inggris, kini tujuannya lebih kepada diversifikasi risiko.
Banyak yang memilih jalur imigrasi investasi ke negara-negara seperti Saint Lucia atau Vanuatu untuk mendapatkan paspor kedua sebagai jaring pengaman. Ini tentunya cerminan dari rasa cemas yang diam-diam menyelimuti sebagian masyarakat di pulau yang terus hidup di bawah bayang-bayang konflik.