Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Seminar Kebebasan Berbicara MOI, Cheng Zhu-mei: Kedaulatan Taiwan dan Kebebasan Berbicara Tak Terpisahkan

08/04/2026 15:25
Penulis & Editor: Farini Anwar
Kementerian Dalam Negeri mengadakan seminar “Dari Tenggorokan yang Terbungkam ke Bola Mata yang Diperhitungkan” untuk memperingati Hari Kebebasan Berbicara. (Foto: Kemendagri)
Kementerian Dalam Negeri mengadakan seminar “Dari Tenggorokan yang Terbungkam ke Bola Mata yang Diperhitungkan” untuk memperingati Hari Kebebasan Berbicara. (Foto: Kemendagri)

Untuk memperingati semangat dari Cheng Nan-jung (鄭南榕), pendiri majalah politik oposisi yang mengorbankan diri untuk kebebasan berbicara, Yuan Eksekutif menetapkan, bahwa 7 April, yaitu hari ketika Cheng Nan-jung melawan penangkapan dan melakukan aksi bakar diri, sebagai "Hari Kebebasan Berbicara" sejak tahun 2016 dan Kementerian Dalam Negeri Taiwan (MOI) mengadakan seminar peringatan di Balai Peringatan Chiang Kai-shek kemarin (7/4). Menteri Dalam Negeri Taiwan, Liu Shih-fang (劉世芳) menegaskan kembali bahwa orang memiliki kebebasan berbicara, tapi tidak diperbolehkan melanggar kebebasan orang lain, tidak boleh memicu perang, kekerasan, atau menyebarkan rumor. Putri Cheng Nan-jung, yaitu Cheng Zhu-mei (鄭竹梅) menunjukkan, bahwa ayahnya percaya, bahwa kemerdekaan Taiwan dan kebebasan bicara sangatlah penting. Ia percaya, Taiwan harus mempertahankan kemerdekaan kedaulatannya, barulah dapat menjaga ruang kebebasan berbicara.

 

MOI mengadakan seminar “Dari Tenggorokan yang Terbungkam ke Bola Mata yang Diperhitungkan” untuk memperingati Hari Kebebasan Berbicara. Seminar ini mengundang sutradara Akira Chen (陳文彬), kritikus film Weng Huang-teh (翁煌德), komentator budaya Zoe Chang (張茵惠), dan kreator “Nanba Jiang” (南爸講) untuk berpartisipasi. Kepala “Plain Law Movement” yaitu Liu Luo-yi (劉珞亦) bertindak sebagai moderator.

 

Dalam pidatonya, Mendagri Liu Shih-fang menyatakan, di era digital ini, kebebasan berbicara tampaknya tidak memiliki batasan, menimbulkan tantangan bagi masyarakat demokrasi dan supremasi hukum Taiwan. Oleh karena itu, ia berharap dapat mendengar lebih banyak suara beragam dari kaum muda, profesi hukum, sektor budaya, dan lainnya. Ia berkata, “kita semua tahu, kebebasan berbicara dalam masyarakat demokratis harus dilindungi oleh aturan hukum. Artinya, kebebasan berbicara Anda tidak boleh melanggar kebebasan orang lain. Kebebasan berbicara Anda tidak boleh memicu perang, kekerasan, atau menyebarkan rumor. Namun, hal ini sangat sulit di era digital, karena kita tidak pernah benar-benar tahu batas gunung ataupun air ada di mana.”

 

Cheng Zhu-mei, Ketua Yayasan Cheng Nan-jung menunjukkan, bahwa Cheng Nan-jung tidak hanya memperjuangkan kebebasan berbicara, tapi juga kemerdekaan Taiwan. Kemerdekaan Taiwan dan kebebasan berbicara sama-sama sangat penting. Jika kedaulatan Taiwan melemah atau terancam, kebebasan berbicara dapat terancam.

 

Cheng Zhu-mei menyatakan, disinformasi merupakan salah satu ancaman terhadap kebebasan berbicara. Ia percaya bahwa memerangi disinformasi membutuhkan interaksi yang tulus antar masyarakat untuk memulihkan kepercayaan timbal balik dan membangun ruang yang lebih baik untuk diskusi positif. Diskusi harus didasarkan pada fakta, dan setiap orang harus bertanggung jawab atas ucapannya sendiri, karena sikap bertanggung jawab merupakan syarat penting untuk lingkungan yang baik bagi kebebasan berbicara.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解