Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Saat Tubuh Lelah Namun Otak Menolak Tidur, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya

10/04/2026 17:44
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Saat Tubuh Lelah Namun Otak Menolak Tidur, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya (PIXABAY)
Saat Tubuh Lelah Namun Otak Menolak Tidur, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya (PIXABAY)

Sebuah fenomena yang membingungkan tetapi sangat umum dialami banyak orang adalah kondisi di mana tubuh terasa sangat lelah setelah beraktivitas seharian, tetapi saat berbaring di tempat tidur, otak justru menolak untuk beristirahat dan mata tak kunjung terpejam.

Selama ini, kondisi tersebut seringkali dianggap sebagai akibat dari stres atau terlalu banyak pikiran. Namun, ilmu saraf modern kini memberikan penjelasan yang lebih dalam, mengungkap bahwa insomnia kronis sejatinya bukanlah sekadar masalah psikologis, melainkan sebuah gangguan regulasi pada mekanisme saraf otak yang berada dalam kondisi kewaspadaan berlebih.

Menurut Dokter Chang Wei-hung (張維紘) dari Departemen Psikiatri Rumah Sakit Universitas Nasional Cheng Kung, penelitian ilmu tidur internasional terbaru telah berhasil mengidentifikasi salah satu mekanisme inti dari insomnia kronis. Sebuah studi dari University of South Australia menemukan bahwa otak penderita insomnia kronis berada dalam kondisi rangsangan kognitif berlebih atau cognitive hyperarousal.

Pada individu normal, kemampuan kognitif akan mencapai puncaknya di siang hari dan secara alami menurun saat malam tiba untuk mempersiapkan tidur. Namun, pada penderita insomnia, puncak aktivitas kognitif ini mengalami pergeseran waktu yang parah, tertunda hingga sekitar enam setengah jam. Akibatnya, saat seharusnya tubuh beristirahat, otak mereka justru baru memasuki mode operasi berkecepatan tinggi.

Kondisi kewaspadaan berlebih ini sangat erat kaitannya dengan kekacauan pada ritme sirkadian atau jam biologis internal tubuh. Dokter Liao Hui-yuan (廖揮原), seorang spesialis psikiatri, menjelaskan bahwa otak kita memiliki jam biologis bawaan yang mengatur siklus terjaga dan tidur. Pada penderita insomnia, jam biologis ini menjadi kacau. Otak gagal melakukan transisi yang mulus dari mode siaga ke mode istirahat, sehingga meskipun tubuh mengirimkan sinyal kelelahan, otak tetap mempertahankan tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Gangguan ritme sirkadian ini tidak hanya berdampak pada kualitas tidur, tetapi juga membawa risiko kesehatan jangka panjang yang serius. Sejumlah studi prospektif berskala besar telah menunjukkan bahwa individu dengan waktu tidur dan bangun yang tidak teratur memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular di masa depan.

Mekanismenya diduga terkait dengan aktivasi berlebih pada saraf simpatik (sistem lawan atau lari) dan sumbu respons stres HPA (Hipotalamus-Pituitari-Adrenal), yang secara terus-menerus membuat tubuh berada dalam kondisi tegang. Hal ini menegaskan bahwa keteraturan jadwal tidur sama pentingnya dengan total durasi tidur itu sendiri.

Bagi mereka yang berjuang melawan insomnia, para ahli memberikan sebuah saran kunci yang mungkin terdengar kontra-intuitif. Alih-alih berfokus untuk tidur lebih awal, kunci utama untuk mengkalibrasi ulang jam biologis adalah dengan menetapkan waktu bangun yang tetap dan konsisten setiap hari, termasuk di akhir pekan.

Dengan memaksa tubuh untuk memulai hari pada waktu yang sama, jam biologis secara bertahap akan menyesuaikan diri dan mulai mengirimkan sinyal kantuk pada waktu yang lebih tepat di malam hari. Para dokter menekankan pentingnya mencari bantuan medis profesional untuk masalah tidur yang berkepanjangan, alih-alih mengandalkan obat tidur sembarangan, karena penanganan yang tepat melibatkan evaluasi dan rekonstruksi ritme otak untuk mengembalikan keseimbangan alaminya.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解