Direktorat Jenderal Pariwisata Taiwan merilis data kuartalan yang menyoroti sebuah tren mengkhawatirkan dalam industri perhotelan nasional. Hasil inspeksi pada kuartal pertama tahun ini mengungkap adanya 1.174 hotel ilegal yang beroperasi di seluruh negeri, sebuah angka yang menunjukkan peningkatan sebanyak 42 tempat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Yang lebih mengejutkan, Kota Taipei dinobatkan sebagai pusatnya penginapan tak berizin, dengan kontribusi sebanyak 410 hotel ilegal, yang seluruhnya merupakan kamar sewa harian.
Pihak berwenang menganalisis bahwa peningkatan jumlah hotel ilegal ini terutama didorong oleh maraknya praktik penyewaan kamar harian di kawasan perkotaan. Model bisnis ini, yang seringkali beroperasi di apartemen atau gedung residensial, menjadi pilihan populer bagi wisatawan yang mencari akomodasi dengan harga lebih miring.
Peningkatan jumlah ini juga merupakan hasil dari inspeksi yang lebih gencar dilakukan oleh pemerintah daerah, yang berhasil mengungkap banyak pelaku usaha yang sebelumnya tidak terdata atau beroperasi di bawah radar.
Sementara jumlah hotel ilegal meningkat, data menunjukkan tren yang kontras pada sektor homestay atau B&B (Bed and Breakfast). Jumlah homestay ilegal yang tidak terdata justru mengalami penurunan sebanyak 44 tempat, kini tersisa 541 tempat.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa upaya inspeksi dan penertiban yang dilakukan oleh pemerintah daerah di kawasan-kawasan wisata telah membuahkan hasil yang positif. Namun, konsentrasi homestay ilegal masih cukup tinggi di beberapa wilayah, dengan Kabupaten Pingtung memimpin daftar dengan 133 tempat, diikuti oleh Kabupaten Nantou (106 tempat) dan Kabupaten Yilan (71 tempat).
Sebagai konsekuensi dari pelanggaran ini, pemerintah telah menjatuhkan denda dengan total nilai yang signifikan. Di sektor perhotelan, total denda yang dikenakan di seluruh Taiwan mencapai NT$36,27 juta.
Kota Tainan, Kota Taipei, dan Kota New Taipei tercatat sebagai tiga wilayah dengan jumlah denda tertinggi, menunjukkan keseriusan pemerintah kota dalam menindak praktik ilegal ini. Sementara itu, di sektor homestay, total denda yang dijatuhkan mencapai NT$3,87 juta, dengan Kabupaten Yilan, Kabupaten Hualien, dan Kabupaten Taitung menjadi daerah yang paling banyak mengenakan sanksi finansial.
Di sisi lain, jumlah akomodasi legal juga menunjukkan dinamika yang menarik. Jumlah hotel legal tercatat sebanyak 3.280 tempat, sedikit berkurang 14 tempat dibandingkan tahun lalu, yang kemungkinan disebabkan oleh pertimbangan bisnis dan persaingan pasar.
Sebaliknya, jumlah homestay legal terus menunjukkan pertumbuhan yang stabil, meningkat sebanyak 430 tempat menjadi total 12.693 tempat.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa model bisnis homestay, yang umumnya memanfaatkan ruang pribadi dan tidak terlalu terbebani oleh biaya operasional sebesar hotel, memiliki daya tahan dan fleksibilitas yang lebih baik dalam menghadapi dinamika pasar pariwisata saat ini.