Sebuah operasi penegakan hukum berskala besar yang digelar oleh kepolisian Kamboja telah berhasil membongkar sindikat penipuan telekomunikasi internasional yang menjadikan sebuah hotel bintang lima di Phnom Penh sebagai markasnya.
Dalam penggerebekan dramatis di Wyndham Grand Phnom Penh Capital, petugas menangkap total 311 warga negara asing, di mana mayoritas di antaranya, yakni sebanyak 182 orang, teridentifikasi sebagai warga negara Taiwan.
Operasi penggerebekan yang dipimpin langsung oleh Gubernur Phnom Penh, Khuong Sreng, ini merupakan pukulan telak bagi jaringan kejahatan transnasional yang telah lama beroperasi dari Kamboja. Berdasarkan laporan dari media lokal, Cambodia China Times, selain 182 warga Taiwan, pihak berwenang juga menangkap 72 warga negara Tiongkok, 30 warga negara Malaysia, 23 warga negara Vietnam, dan 2 warga negara India. Keberagaman kewarganegaraan para tersangka menunjukkan skala dan kompleksitas dari operasi sindikat penipuan ini.
Dari hasil investigasi awal, terungkap bahwa sindikat ini memiliki modus operandi yang sangat terorganisir dan menargetkan korban secara spesifik. Dengan pembagian tugas yang ketat, para pelaku utamanya menyamar sebagai pejabat pemerintah Taiwan untuk melakukan penipuan terhadap warga Taiwan sendiri.
Petugas menangkap total 311 warga negara asing, di mana mayoritas di antaranya, yakni sebanyak 182 orang, teridentifikasi sebagai warga negara Taiwan. Foto: YAHOO
Di lokasi kejadian, polisi menyita sejumlah besar barang bukti krusial, termasuk stempel-stempel dinas dan stempel identitas palsu yang diduga kuat digunakan untuk meyakinkan para korban dan memuluskan aksi kejahatan mereka.
Modus penipuan yang dijalankan oleh sindikat ini tidak hanya terbatas pada penyamaran sebagai pejabat. Mereka juga terlibat dalam berbagai skema penipuan lainnya, seperti penipuan investasi yang menjanjikan tingkat pengembalian yang tidak masuk akal, serta penipuan yang melibatkan mata uang kripto.
Selain menargetkan warga Taiwan, sindikat ini juga diketahui telah mencatut nama sebuah perusahaan asal Singapura untuk menipu warga negara Malaysia, menunjukkan jangkauan operasi mereka yang melintasi beberapa negara.
Dalam operasi tersebut, polisi menyita ratusan alat kejahatan, termasuk 615 unit ponsel dan 140 unit laptop, yang menjadi bukti skala besar dari operasi mereka. Yang lebih mengkhawatirkan, polisi juga menemukan adanya indikasi keterlibatan narkoba di lokasi penggerebekan, menambah lapisan kejahatan lain dalam kasus ini.
Saat ini, seluruh tersangka beserta barang bukti telah diserahkan kepada departemen terkait untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan hukum yang berlaku. Kasus ini kini memasuki tahap investigasi mendalam untuk mengungkap seluruh jaringan dan dalang di balik salah satu sindikat penipuan terbesar yang pernah dibongkar di Kamboja.