Presiden Lai Ching-te akan melakukan kunjungan ke Eswatini. Kantor Urusan Taiwan kemarin (15/4) mengutip pernyataan prinsip “Kebijakan Satu Tiongkok”, berharap agar negara-negara terkait mengenali tren umum ini. Kementerian Luar Negeri (MOFA) pada hari Kamis ini (16/4) mengecam keras dan membantah pernyataan Kantor Urusan Taiwan, serta menegaskan Republik Tiongkok Taiwan adalah negara berdaulat, tidak saling berafiliasi dengan Republik Rakyat Tiongkok. Kunjungan presiden Taiwan sesuai dengan standar internasional yang berlaku, juga merupakan kegiatan rutin, dan Tiongkok tidak berhak untuk ikut campur, Presiden Lai adalah kepala negara Republik Tiongkok yang dipilih oleh masyarakat Taiwan, tidak bisa tolerir dengan niat jahat dan fitnah dari Tiongkok.
MOFA mengatakan, Taiwan memiliki hak untuk memilih dengan negara mana, melakukan pembinaan hubungan dan berinteraksi, sama sekali tidak menerima adanya intervensi atau penindasan dari negara mana pun dengan alasan apa pun. Meskipun pemerintah otoriter terus berekspansi dan memperberat ancamannya, Taiwan tidak akan kendur, tetapi akan semakin berani melangkah maju ke dunia.
MOFA menunjuk, penindasan kejam Tiongkok terhadap Taiwan berupaya menghalangi ruang diplomatik Taiwan dan membungkam kedudukan internasionalnya. Selain merusak perkembangan hubungan lintas selat yang sehat, juga merugikan hak dan kepentingan masyarakat Taiwan. MOFA menyerukan kepada Beijing untuk segera menghentikan tindakannya yang membuat onar dalam komunitas internasional dan menganggu hubungan lintas selat.