Konflik Timur Tengah mengakibatkan naiknya harga bahan bakar minyak internasional, menimbulkan kekhawatiran inflasi pasar. DBS Bank beberapa hari lalu mengingatkan kondisi emas “pertumbuhan tinggi, inflasi rendah” mungkin akan pecah, dan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Taiwan diperkirakan dari 1,5% akan direvisi naik menjadi 1,9%, untuk Produk Domestik Bruto (PDB) tetap bertahan pada 7%.
Pakar ekonom DBS Group Ma Tie-ying (馬鐵英) mengemukakan, konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran berdampak pada pasar energi global dan rantai pasokan, untuk mengembalikan harga bahan bakar minyak pada kondisi normal setidaknya membutuhkan beberapa bulan, tergantung pada faktor-faktor seperti lewatnya Selat Hormuz dan apakah infrastruktur energi yang rusak telah pulih sepenuhnya, guncangan harga energi diperkirakan akan terus berlanjut hingga kuartal kedua
Ma Tie-ying (馬鐵英) menyampaikan, konflik Timur Tengah mungkin akan meningkatkan inflasi global, membuat perekonomian global menghadapi tantangan “perhentian inflasi”, meskipun Taiwan tidak akan menghadapi situasi ini, tetapi akan memecahkan situasi pada awalnya “pertumbuhan tinggi dan inflasi rendah”, berdasarkan perkiraan DBS Bank, dengan hipotesa hanga minyak Brent rata-rata US$80 per barel maka inflasi pada Mei akan meningkat sekitar 2%, ini akan bertahan hingga Desember, penyebab utama karena pergerakan dari harga minyak dan produk makanan.
DBS Bank mengemukakan, indek memperlihatkan, meningkatnya inflasi pada kuartal kedua menyebabkan ekspor melemah. Purchasing Managers Index (PMI) Maret memperlihatkan meningkatnya penanam saham, mencapai pada standar awal perang Rusia dan Ukraina tahun 2022, yang mana pada waktu itu ekspor mengalami penurunan kecil. Selain itu, tingkat kepercayaan konsumen pada Maret melemah, mencerminkan kekhawatiran masyarakat pada perekonomian, situasi keuangan keluarga, pasar saham dan harga barang.