Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Selat Hormuz Kembali Diblokir, Donald Trump Gelar Rapat Darurat di Ruang Situasi Gedung Putih  

19/04/2026 15:36
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Selat Hormuz Kembali Diblokir, Donald Trump Gelar Rapat Darurat di Ruang Situasi Gedung Putih   
Selat Hormuz Kembali Diblokir, Donald Trump Gelar Rapat Darurat di Ruang Situasi Gedung Putih  

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Iran pada Sabtu kemarin (18/4) memblokir kembali Selat Hormuz, hanya sehari setelah sempat membuka jalur vital pengiriman minyak global tersebut. Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar persyaratan gencatan senjata dengan terus memblokir pelabuhan-pelabuhan Iran. Merespons eskalasi ini, Presiden Donald Trump langsung menggelar rapat di Ruang Situasi Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan oleh media Amerika Serikat, Axios, yang mengutip keterangan dua pejabat pemerintahan.

Rapat Ruang Situasi tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Keuangan Scott Bessent, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff, Direktur CIA John Ratcliffe, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.

Kehadiran seluruh pejabat kunci tersebut mencerminkan betapa seriusnya Washington memandang situasi yang berkembang di Selat Hormuz.

Perkembangan ini terjadi hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Trump pada Jumat (17/4) menympaikan pernyataan optimistis, berterima kasih kepada Iran atas pembukaan Selat Hormuz dan menyebut bahwa perjanjian pengakhiran perang mungkin akan tercapai dalam satu atau dua hari.

Pernyataan tersebut sempat mendorong harga minyak global turun hingga 10%. Namun, Iran segera membantah gambaran optimistis itu dengan mengumumkan pemblokiran kembali selat tersebut, seraya menegaskan bahwa langkah itu akan terus dipertahankan selama Amerika Serikat belum mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Perjanjian gencatan senjata AS-Iran saat ini diperkirakan akan berakhir dalam tiga hari ke depan, sementara jadwal putaran negosiasi terbaru belum juga ditentukan. Seorang pejabat senior AS memperingatkan bahwa jika tidak ada kemajuan berarti dalam waktu dekat, aksi militer berpotensi kembali meletus.

Kepala negosiator Iran yang juga menjabat sebagai Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran mengakui bahwa meskipun kedua pihak telah mencapai kesepakatan pada sejumlah isu, masih terdapat perbedaan besar pada isu-isu lainnya.

Sumber yang mengetahui detail negosiasi mengungkapkan kepada Axios bahwa inti dari perbedaan tersebut adalah persoalan uranium yang diperkaya milik Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, yang tengah menghadiri pertemuan di Turki, menyatakan secara tegas bahwa Iran tidak akan menyerahkan uranium yang diperkaya dalam bentuk apa pun kepada Amerika Serikat.

Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pernyataannya juga menegaskan posisi Iran yang tidak akan bergeser terkait kedaulatan program nuklirnya. "Trump tidak mewujudkan tujuannya yang disebut-sebut sebagai pergantian rezim Iran dan penghancuran senjata ofensif serta kemampuan rudal kami. Iran bukanlah Venezuela," ujarnya.

Sementara itu, pembicaraan pertama antara AS dan Iran dipimpin oleh Wakil Presiden Vance, dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir berperan sebagai mediator yang secara langsung bertolak ke Teheran untuk memimpin pembicaraan.

Sumber menyebut bahwa Trump juga telah melakukan setidaknya satu kali pembicaraan telepon dengan Munir dan perwakilan Iran, menandakan bahwa upaya diplomatik masih terus berjalan meski situasi di lapangan terus memanas.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解