Sebuah penelitian berskala besar yang berlangsung selama 43 tahun di Amerika Serikat menghadirkan temuan yang menarik perhatian dunia medis, yakni konsumsi kopi atau teh berkafein dalam jumlah sedang setiap hari terbukti berkaitan dengan penurunan risiko demensia dan perlambatan penurunan fungsi kognitif.
Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) dan diangkat kembali oleh Dokter Chiang Shou-shan (江守山) melalui unggahan di halaman Facebook-nya, menarik perhatian luas dari kalangan masyarakat yang peduli terhadap kesehatan otak.
Penelitian tersebut merupakan studi kohort prospektif berskala besar yang menganalisis data dari 131.821 peserta yang tergabung dalam dua studi kesehatan jangka panjang bergengsi, yakni Nurses Health Study (NHS) dan Health Professionals Follow-up Study (HPFS).
Para peneliti melakukan pelacakan terhadap seluruh peserta selama 43 tahun, secara berulang mengevaluasi pola makan, diagnosis demensia, masalah kognitif subjektif, serta kinerja kognitif objektif masing-masing peserta. Skala dan durasi penelitian ini menjadikannya salah satu studi paling komprehensif yang pernah dilakukan terkait hubungan antara konsumsi kafein dan kesehatan otak.
Hasil analisis menunjukkan bahwa asupan kopi berkafein dalam jumlah sedang, yakni dua hingga tiga cangkir per hari, atau teh sebanyak satu hingga dua cangkir per hari, berkaitan dengan penurunan risiko demensia, perlambatan penurunan kognitif, serta pemeliharaan kemampuan kognitif yang lebih baik secara keseluruhan.
Dari lebih dari 130 ribu peserta yang terlibat, sebanyak 11.033 orang didiagnosis menderita demensia selama periode penelitian berlangsung. Dibandingkan dengan kelompok yang jarang atau tidak pernah mengonsumsi kopi, mereka yang rutin mengonsumsi kopi berkafein dalam jumlah sedang tercatat memiliki risiko 18% lebih rendah untuk terkena demensia.
Chiang Shou-shan menjelaskan bahwa pola serupa juga ditemukan pada kelompok konsumen teh, di mana konsumsi teh secara teratur juga berkorelasi dengan penurunan risiko demensia dan kinerja kognitif yang lebih baik. Namun, yang menarik adalah temuan bahwa kopi tanpa kafein atau dekafein tidak menunjukkan korelasi yang sama dengan perlindungan kognitif tersebut.
Hal ini mengindikasikan bahwa kandungan kafein memainkan peran kunci dalam mekanisme perlindungan otak yang diamati dalam penelitian ini, meskipun para peneliti menekankan perlunya kajian lebih lanjut untuk memahami mekanisme biologis yang mendasarinya secara lebih mendalam.
Temuan ini memberikan perspektif baru yang menarik bagi masyarakat umum terkait manfaat konsumsi kopi dan teh yang selama ini kerap dipandang dari sudut pandang yang beragam.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi kafein tetap harus dilakukan dalam batas yang wajar dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu seperti gangguan jantung, kecemasan, atau gangguan tidur, konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah yang disarankan sebelum meningkatkan asupan kafein harian.