Kemunculan sanca kembang (python reticulatus) di wilayah Kaohsiung dalam beberapa waktu terakhir semakin sering tercatat dan mulai menarik perhatian serius dari kalangan pakar konservasi. Data yang dihimpun oleh Asosiasi Konservasi Reptil Taiwan (RCA) mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah terdapat 19 catatan penampakan sanca kembang di wilayah tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, separuh dari total penampakan itu terkonsentrasi di daerah aliran Sungai Dianbao yang melintasi kawasan Gangshan dan Qiaotou. Mengingat sanca kembang merupakan spesies asing yang bukan asli Taiwan, para pakar menduga ular-ular tersebut berasal dari hewan peliharaan yang melarikan diri atau sengaja dibuang oleh pemiliknya, dan mulai membangun populasi mandiri di alam liar.
Ketua RCA, Yu Chung-wei (游崇瑋), menyatakan bahwa konsentrasi 10 dari 19 catatan penampakan di daerah aliran Sungai Dianbao menunjukkan pola distribusi yang cukup terpusat dan tidak dapat diabaikan. Pola ini memperkuat dugaan bahwa sanca kembang telah berhasil membentuk populasi yang berkembang biak secara mandiri di alam liar kawasan tersebut.
Sungai Dianbao sendiri mengalir melalui kawasan Nanzih, Dashe, Qiaotou, dan Gangshan di Kaohsiung, dengan lokasi yang juga berdekatan dengan titik terjadinya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan ular di kawasan Yanchao pada tahun lalu.
Yu Chung-wei menjelaskan lebih lanjut bahwa Taiwan pada dasarnya tidak memiliki sebaran alami sanca kembang, sehingga keberadaan individu-individu ini hampir dipastikan berasal dari hewan peliharaan yang lolos atau dilepaskan oleh pemiliknya.

Data yang dihimpun oleh Asosiasi Konservasi Reptil Taiwan (RCA) mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah terdapat 19 catatan penampakan sanca kembang di wilayah Kaohsiung.
Sanca kembang diketahui memangsa mamalia kecil, dan dalam kondisi tertentu kucing liar, anjing liar, serta hewan peliharaan yang berkeliaran di luar rumah pun berpotensi menjadi sasaran mangsanya.
Kemampuan adaptasi sanca kembang yang sangat tinggi menjadikannya salah satu spesies asing dengan potensi invasi ekologis yang paling tinggi di tingkat global, sehingga keberadaannya di alam liar Taiwan menjadi perhatian serius bagi para ahli ekologi.
Seorang pegawai toko hewan peliharaan eksotis bermarga Yuan (苑姓) mengungkapkan bahwa sanca kembang memiliki daya tarik tersendiri di kalangan penggemar reptil karena corak tubuhnya yang indah dengan kilau menyerupai pelangi. Namun, untuk mencegah spesies ini menjadi ancaman bagi ekosistem lokal, impor sanca kembang ke Taiwan telah dilarang.
Ular yang berasal dari kawasan Asia Tenggara termasuk India, Kamboja, dan Malaysia ini sejak tahun 2017 telah diklasifikasikan sebagai hewan liar langka yang dilindungi dan dilarang untuk diimpor. RCA saat ini terus melakukan pemantauan aktif di lapangan dan menjalin kerja sama dengan tim penangkap ular, dengan tujuan mencegah ekspansi lebih lanjut dari populasi asing yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi lokal secara permanen.