(Taiwan, ROC) - Taiwan menempuh jalan penuh kesulitan dalam transisi dari otoritarianisme ke demokrasi dan kebebasan, maka sangat penting untuk tidak pernah melupakan pengorbanan para pendahulu demokrasinya. Siapa pun yang mengaku mencintai Taiwan tetapi menentang penguatan militer atau menolak untuk meninjau anggaran umum tidak benar-benar mencintai Taiwan.
Demikian diungkapkan Presiden Lai Ching-te (賴清德) saat menghadiri Konser Peringatan Yu Teng-fa (余登發) dan Yu Chen Yueh-ying (余陳月瑛) pada hari Minggu (19 April).
Melalui sambutannya, Presiden Lai menunjukkan bahwa ini bukan hanya konser yang mengharukan, tetapi juga pengingat akan perjalanan berat yang ditempuh Taiwan dari otoritarianisme ke demokrasi dan kebebasan, sebuah proses yang ditandai dengan pengorbanan nyawa dan kebebasan yang tak terhitung jumlahnya.
Kepala negara menyebutkan bahwa pada tahun 1979, mantan bupati Yu Teng-fa dituduh secara salah sebagai mata-mata komunis dan ditangkap oleh pemerintah Kuomintang (KMT). Pada saat itu, banyak tokoh non-KMT dan masyarakat biasa dari berbagai pelosok berkumpul di Qiaotou (橋頭) untuk menyuarakan protes, dan ini menjadi gerakan politik pertama selama periode darurat militer di Taiwan.
Lai menggambarkan kedua mantan bupati, Yu Dengfa dan Yu Chen Yueying, bukan hanya sebagai pejuang demokrasi Taiwan dan penentang kekuatan besar yang tak kenal takut, tetapi juga sebagai demonstrasi integritas, ketekunan, dan kecintaan DPP terhadap tanah air, maka semua politisi Taiwan, tanpa memandang afiliasi partai, harus belajar dari semangat dan keberanian kedua mantan bupati tersebut dalam mencintai rakyat dan Taiwan.
Menghadapi ancaman eksternal, Presiden Lai menegaskan, hanya dengan meningkatkan kemampuan pertahanan nasional, memperkokoh kekuatan ekonomi, dan bekerja sama dengan kubu demokrasi, keamanan nasional baru dapat dipastikan. Untuk itu, lanjutnya, siapa pun dapat mengatakan mereka mencintai Taiwan, tetapi jika mereka menentang penguatan kekuatan militer, ini bukanlah cinta sejati kepada Taiwan.