Krisis angka kelahiran rendah di Taiwan terus menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Pada bulan Februari tahun ini, jumlah bayi baru lahir untuk pertama kalinya dalam sejarah anjlok di bawah angka 7.000, mencatatkan rekor terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan total 6.523 jiwa.
Kecepatan penurunan angka kelahiran Taiwan kini disebut menduduki peringkat pertama di dunia, melampaui negara-negara lain yang juga tengah berjuang menghadapi persoalan serupa.
Meskipun pemerintah terus menggelontorkan berbagai paket subsidi dan insentif finansial, para pakar memperingatkan bahwa persoalan ini jauh lebih kompleks dari sekadar masalah ekonomi, dan solusinya membutuhkan perubahan mendasar dalam struktur sosial dan nilai-nilai budaya masyarakat Taiwan.
Dampak nyata dari krisis ini dapat dilihat secara konkret dari perubahan jumlah siswa di sekolah-sekolah dasar. SD Laosong di Taipei menjadi contoh yang paling mencolok. Pada tahun 1966, sekolah tersebut mencatatkan total 11.110 siswa yang tersebar dalam 158 kelas untuk enam tingkatan, dengan rata-rata 70 siswa per kelas yang bahkan masuk dalam catatan Rekor Guinness.
Kini, setelah puluhan tahun terdampak penurunan angka kelahiran yang terus-menerus, jumlah siswa di sekolah yang sama hanya tersisa sekitar 500 orang. Kontras yang tajam ini menjadi gambaran paling nyata tentang bagaimana krisis populasi secara perlahan namun pasti mengubah wajah masyarakat Taiwan.
Data statistik resmi semakin memperjelas kedalaman persoalan ini. Total populasi Taiwan pada akhir Februari tercatat sebesar 23.280.273 jiwa, berkurang 104.341 jiwa dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Yang lebih mengkhawatirkan, total populasi Taiwan telah mengalami pertumbuhan negatif selama 26 bulan berturut-turut, sementara fenomena kelahiran lebih sedikit dari kematian telah berlangsung selama 62 bulan berturut-turut tanpa henti.
Manajer Umum Pusat Perawatan Pascapersalinan, Zha Xiao-shan (查曉珊), mengungkapkan bahwa meskipun banyak pihak berharap Tahun Naga 2024 akan mendorong lonjakan kelahiran sesuai kepercayaan tradisional, kenyataannya jumlah kelahiran di tahun tersebut justru lebih rendah dibandingkan tahun 2023, dengan penurunan yang kembali mencapai setidaknya 20 persen.
Pakar demografi Yang Wen-shan (楊文山) menegaskan bahwa akar persoalan angka kelahiran rendah di Taiwan bersifat multidimensi dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan subsidi finansial. Ia menyoroti bahwa fenomena tidak menikah dan tidak memiliki anak pada Generasi Z sudah mencapai tingkat yang sangat serius, diperparah oleh usia pernikahan yang semakin terlambat.
Faktor-faktor struktural yang berkontribusi mencakup harga properti dan harga barang kebutuhan yang terlalu tinggi, lingkungan upah yang rendah, biaya membesarkan anak yang terus meningkat, pasar tenaga kerja yang tidak ramah terhadap perempuan, serta pergeseran budaya di kalangan generasi muda yang semakin tidak tertarik pada pernikahan dan pengasuhan anak. Yang Wen-shan mengutip penelitian komparatif terhadap kebijakan kesuburan di sepuluh negara Eropa yang menemukan bahwa kebijakan yang efektif adalah yang mampu membantu perempuan merasakan keseimbangan nyata antara pekerjaan dan keluarga, dengan fleksibilitas yang tertanam dalam keseluruhan desain sistem.
Anggota legislator Lo Chih-chiang (羅智強) menambahkan dimensi ketidaksetaraan gender sebagai faktor kunci yang kerap diabaikan dalam diskusi kebijakan kesuburan. Ia menunjukkan bahwa dalam keluarga yang memiliki anak, 76% pengasuh utama adalah ibu, sementara ayah hanya berkontribusi 11%. Data juga menunjukkan bahwa rata-rata jam kerja mingguan perempuan berkurang 8,7 jam setelah melahirkan, disertai penurunan gaji hampir NT$9.000.
Lo Chih-chiang mengangkat pengalaman Korea Selatan sebagai referensi, di mana dorongan aktif bagi laki-laki untuk mengambil cuti mengasuh anak terbukti meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan, mengurangi beban yang ditanggung perempuan, dan pada akhirnya merangsang pembalikan tren tingkat kesuburan.
Ia menegaskan bahwa selama masyarakat masih memaksa perempuan untuk memilih antara karier dan keluarga, tingkat kesuburan akan terus sulit untuk pulih ke level yang diharapkan.