Taiwan telah lama mempromosikan perawatan paliatif sebagai bagian dari sistem kesehatan nasionalnya, dan hasilnya tidak mengecewakan, kualitas perawatan akhir hayat di Taiwan kini menempati peringkat pertama di Asia dan ketiga di dunia, pencapaian terbaik sepanjang sejarah.
Namun di balik prestasi tersebut, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) Shih Chung-liang (石崇良) mengungkapkan sebuah ketimpangan yang perlu segera dibenahi, yakni dari sekitar 100.000 kunjungan perawatan paliatif yang dilayani Asuransi Kesehatan Nasional (NHI) setiap tahunnya, 80% masih berlangsung di rumah sakit.
Perawatan paliatif di rumah, yang dianggap lebih sesuai dengan keinginan banyak pasien untuk menghabiskan hari-hari terakhir di lingkungan yang familiar, masih jauh dari optimal.
Shih Chung-liang menjelaskan bahwa perawatan paliatif secara garis besar terbagi menjadi tiga kategori, yakni rawat inap, perawatan bersama paliatif, dan perawatan paliatif di rumah. Dari total 100.000 kunjungan tahunan tersebut, hanya lebih dari 20.000 kunjungan yang dilaksanakan dalam bentuk perawatan di rumah, sementara sisanya tetap berlangsung di fasilitas rumah sakit.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret guna menggeser keseimbangan tersebut. Untuk pasien kanker, angkanya relatif lebih baik, sekitar 65% pasien kanker menerima perawatan paliatif pada tahun terakhir sebelum meninggal. Namun untuk penyakit-penyakit lainnya, cakupan perawatan paliatif masih memerlukan peningkatan signifikan.
Sebagai respons, pemerintah tahun ini mendorong implementasi sistem pembayaran berbasis kinerja atau Pay for Performance (P4P) untuk perawatan paliatif. Melalui penyesuaian struktur subsidi, sistem ini dirancang untuk mendorong masyarakat memilih opsi perawatan di rumah sekaligus memotivasi tenaga medis untuk berpartisipasi lebih aktif.
Shih Chung-liang memaparkan bahwa sistem P4P dibagi menjadi tiga tingkatan penilaian, yakni baik, sangat baik, dan luar biasa, dengan tambahan subsidi masing-masing sebesar 10%, 20%, dan 30%. Sebanyak 60% dari tambahan tersebut akan langsung diberikan kepada personel yang tergabung dalam tim perawatan paliatif.
Hingga saat ini, sebanyak 100 institusi medis telah mendaftarkan diri, dan evaluasi lanjutan akan dilakukan oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit Gabungan Taiwan bersama lembaga terkait.
Terkait isu eutanasia yang kerap memicu perdebatan publik, Shih Chung-liang menegaskan bahwa persoalan ini menyentuh dimensi hak hidup dan mati yang sangat mendasar. Dalam kerangka hukum pidana yang berlaku saat ini, membantu bunuh diri masih dikategorikan sebagai tindak pidana, sehingga dekriminalisasi harus menjadi prasyarat sebelum diskusi lebih lanjut dapat dilakukan secara bermakna.
Pemerintah untuk saat ini memilih fokus pada penguatan perawatan paliatif dan paliatif medis, yang dipadukan dengan Undang-Undang Hak Otonomi Pasien. Tujuan akhirnya adalah memastikan setiap pasien dapat terbebas dari penderitaan yang tidak perlu di penghujung hidupnya, dan meninggal dengan bermartabat berdasarkan pilihan sadar mereka sendiri.