Taiwan menghadapi krisis demografis yang semakin serius. Hingga akhir Maret tahun ini, jumlah penduduk Taiwan telah mengalami pertumbuhan negatif selama 27 bulan berturut-turut, dengan tingkat kesuburan total yang hanya mencapai 0,695, angka ini jauh di bawah angka penggantian generasi sebesar 2,1 yang dibutuhkan agar populasi dapat dipertahankan.
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat dan Prancis berada di angka 1,5, sementara Finlandia yang dikenal dengan sistem kesejahteraan sosialnya yang kuat pun hanya mencapai di bawah 1,3. Kondisi Taiwan yang hanya 0,695 mencerminkan situasi yang jauh lebih gawat dibandingkan rata-rata global.
Di tengah tekanan tersebut, muncul laporan bahwa Presiden Lai Ching-te (賴清德) akan mengumumkan perluasan usia penerapan kebijakan "Negara Ikut Membesarkan Anak Usia 0 hingga 6 Tahun" menjadi hingga 18 tahun, bertepatan dengan peringatan dua tahun masa jabatannya pada 20 Mei 2026 mendatang.
Ketua Dewan Pembangunan Nasional (NDC), Yeh Chun-hsien (葉俊顯), sebelumnya telah mengisyaratkan di Yuan Legislatif bahwa Istana Kepresidenan dan Yuan Eksekutif dalam waktu dekat akan mengumumkan kebijakan besar terkait isu ini. Namun sumber dari Yuan Eksekutif menegaskan bahwa keputusan mengenai perpanjangan usia tersebut belum final dan masih dalam tahap pengkajian mendalam.
Yuan Eksekutif menyatakan bahwa pemerintah tengah merancang program pertumbuhan baru dengan inti mendorong persalinan, mendampingi pengasuhan, dan mendukung pendidikan. Program ini tidak hanya mencakup tiga aspek tersebut, tetapi juga akan mengambil langkah dari dua aspek tambahan yaitu tempat tinggal dan tempat kerja, dengan total lima dimensi dukungan bagi keluarga yang melahirkan.
Pemerintah juga berencana memperluas dorongan untuk program penitipan anak di lingkungan perusahaan dan memperkuat aksesibilitas layanan penitipan di tempat kerja, agar beban praktis yang dihadapi orang tua bekerja dapat berkurang secara nyata.