Data iklim terbaru memberikan gambaran yang mengkhawatirkan. Pakar klimatologi Lin Te-en (林得恩) mengungkapkan bahwa April tahun ini tercatat sebagai salah satu bulan dengan suhu daratan dan lautan terpanas dalam sejarah. Suhu permukaan laut di luar wilayah kutub bahkan mencetak rekor tertinggi kedua sepanjang masa, sementara dalam skala global, April tahun ini menjadi bulan April terhangat ketiga yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata 1,43C lebih tinggi dibandingkan tingkat pra-industri.
Lin Te-en menyebut data ini sebagai sinyal jelas dari pemanasan global yang terus berlanjut.
Kenaikan suhu laut membawa rangkaian dampak yang saling berkaitan. Lin Te-en menjelaskan bahwa suhu permukaan laut adalah indikator paling jelas untuk mengukur kelebihan panas yang diserap bumi. Mengacu pada data Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), sejak 1970, lautan global telah menyerap lebih dari 90% kelebihan panas yang terperangkap oleh emisi gas rumah kaca. Begitu suhu laut meningkat, dampaknya mencakup tiga hal utama, masing-masing memperparah intensitas badai tropis, merusak ekosistem laut termasuk pemutihan terumbu karang secara masif, dan mengacaukan pola iklim global yang pada akhirnya berimbas pada anomali cuaca di berbagai belahan dunia.
Studi dari Pusat Prakiraan Cuaca Menengah Eropa (ECMWF) yang dikutip Lin Te-en memperkuat kekhawatiran tersebut. Data April tahun ini menunjukkan suhu permukaan laut mendekati rekor tertinggi, gelombang panas laut yang semakin meluas, dan luas es laut Arktik yang berada jauh di bawah rata-rata historis. Anomali suhu dan curah hujan yang signifikan juga terdeteksi di kawasan Eropa, menandakan bahwa dampak pemanasan tidak lagi bersifat regional melainkan berskala global.
Yang paling mengkhawatirkan adalah proyeksi ke depan. Memasuki musim gugur tahun ini, suhu permukaan laut di Pasifik Tengah dekat ekuator diproyeksikan bisa mencapai 3C lebih tinggi dari rata-rata iklim pada periode yang sama. "Cuaca ekstrem panas tahun ini belum berakhir, dan masih terus berlangsung," tegas Lin Te-en.