Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Pidato di KTT Demokrasi Kopenhagen, Presiden: Taiwan Berdaulat dan Merdeka, Berhak Melangkah ke Dunia Internasional

13/05/2026 13:51
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Pidato di KTT Demokrasi Kopenhagen, Presiden: Taiwan Berdaulat dan Merdeka, Berhak Melangkah ke Dunia Internasional (Istana Kepresidenan)
Pidato di KTT Demokrasi Kopenhagen, Presiden: Taiwan Berdaulat dan Merdeka, Berhak Melangkah ke Dunia Internasional (Istana Kepresidenan)

Presiden Lai Ching-te (賴清德) pada Selasa kemarin (12/5), menyampaikan pidato melalui rekaman video dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Demokrasi Kopenhagen ke-9. Kepala Negara menyampaikan bahwa dalam menghadapi ekspansi otoritarianisme, tidak ada satu pun negara demokratis yang dapat berdiam diri. Ia menyampaikan apresiasi atas setiap suara dukungan dari mitra demokrasi, yang dinilainya sebagai efek jera terkuat bagi penguasa sekaligus perisai paling kokoh untuk melindungi nilai-nilai bersama.

Presiden menegaskan bahwa Taiwan adalah negara berdaulat dan merdeka, memiliki hak untuk melangkah ke panggung dunia. Segala bentuk upaya untuk mengisolasi Taiwan tidak akan mampu mengubah tekad Taiwan untuk berpartisipasi dalam komunitas internasional.

Atas undangan Alliance of Demoraties (AoD) Denmark, Presiden Lai pada 12 Mei 2026 menyampaikan pidato melalui rekaman video dalam KTT Demokrasi Kopenhagen ke-9.

Mengawali pidatonya, Kepala Negara menyampaikan terima kasih kepada Ketua AoD, Anders Fogh Rasmussen, atas undangan yang kembali diberikan kepadanya. Undangan ini memungkinkannya mewakili rakyat Taiwan untuk berpartisipasi dalam KTT Demokrasi Kopenhagen tahun ini, berdiri berdampingan dengan seluruh sahabat yang tegun mendukung nilai-nilai kebebasan, demokrasi dan HAM.

Presiden menegaskan bahwa dunia saat ini tengah berada di titik balik krusial dalam tarik ulur antara demokrasi dengan otoritarianisme. Dari Eropa, Timur Tengah, hingga kawasan Indo Pasifik, kekuatan otoriter terus menghimpun kekuatan. Melalui intimidasi militer, paksaan ekonomi, serangan siber, dan taktik zona abu-abu, mereka menghadirkan tantangan yang semakin pelik bagi perdamaian, stabilitas, dan perkembangan demokrasi global.

Presiden menyampaikan bahwa pada bulan lalu, ia sejatinya dijadwalkan memipin delegasi berkunjung ke Eswatini, tetapi menghadapi tindakan Tiongkok yang memblokir rute penerbangan normal. Insiden ini memperlihatkan dengan semakin jelas kepada komunitas demokrasi global bahwa rezim otoriter tengah berupaya memaksakan aturan mereka kepada dunia.

Mereka bahkan tidak segan melanggar kebiasaan internasional, menjadikan keselataman penerbangan global dan tatanan penerbangan sipil sebagai alat tawar menawar untuk memberikan tekanan politik.

Berbagai tantangan ini terus mengingatkan kita bahwa dalam menghadapi ekspansi otoritarianisme, tidak ada negara demokratis yang bias lepas tangan. Hanya dengan bersatunya kubu demokrasi global, barisan pertahanan yang lebih tangguh dapat dibangun untuk dunia yang bebas.

Presiden menekankan bahwa Taiwan, yang berada di posisi strategis Rantai Pulau Pertama dan berdiri di garis terdepan demokrasi, bersedia berbagi pengalaman dengan komunitas internasional dalam menghadapi kekuatan otoriter. Selain terus meningkatkan kemampuan pertahanan diri, Taiwan juga akan bekerja sama dengan berbagai negara untuk memperkuat pertahanan dunia.

Di samping itu, dengan industry semikonduktor dan kecerdasan buatan yang memimpin di tingkat global, Taiwan akan terus memanfaatkan keunggulan teknologinya. Bersama mitra-mitra dunia, Taiwan berkomitmen untuk membangun rantai pasokan demokratis yang dapat dipercaya dan lebih tangguh, guna memberikan kontribusi yang lebih besar bagi keamanan dan kemakmuran ekonomi global.

Melalui kesempatan ini, Presiden juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh mitra demokrasi yang tetap memilih untuk mendukung Taiwan di tengah berbagai tekanan. Ia menegaskan bahwa Taiwan yang demokratis dan lebih kuat bukan sekedar cita-cita rakyat Taiwan, melainkan juga harapan komunitas internasional.

Presiden menuturkan bahwa demokrasi adalah penghubung antara Taiwan dengan dunia, sekaligus asset Taiwan yang paling berharga. Tahun ini menandai peringatan 30 tahun pemilihan presiden langsung di Taiwan. Selama 3 dekade, Taiwan terus memperdalam demokrasinya dan menjelma menjadi mercusuar demokrasi yang penting di Asia.

Menghadapi berlapis-lapis tantangan eksternal, rakyat Taiwan tidak pernah mundur dan pantang menyerah. Segala bentuk rintangan tidak akan mampu mengubah tekad Taiwan untuk melangkah ke panggung dunia.

Sebagai penutup, Presiden menyatakan keyakinannya bahwa selama negara-negara demokratis bersatu dan berdiri teguh bersama, cahaya kebebasan tidak akan pernah padam. Bersama-sama, mereka akan mewariskan dunia yang bebas, terbuka, damai, dan makmur bagi generasi mendatang.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解