Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Isu Taiwan dalam Pertemuan Trump-Xi Menjadi Sorotan, Mantan Diplomat AS Imbau AS Tetap Berpegang pada Kebijakan Taiwan

14/05/2026 11:48
Penulis & Editor: Amina Tjandra
Mantan Duta Besar AS untuk Tiongkok, Nicholas Burns kemarin (13/5) mengatakan, sangat penting bagi Trump untuk tetap berpegang pada kebijakan AS yang telah lama ada dan melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan. (foto: AFP)
Mantan Duta Besar AS untuk Tiongkok, Nicholas Burns kemarin (13/5) mengatakan, sangat penting bagi Trump untuk tetap berpegang pada kebijakan AS yang telah lama ada dan melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan. (foto: AFP)

Pertemuan Trump-Xi di Beijing diprediksikan akan membahas isu-isu terkait Taiwan, dan bagaimana tanggapan Trump terhadap Xi, menarik perhatian masyarakat luar. Mantan Duta Besar AS untuk Tiongkok, R. Nicholas Burns kemarin (13/5) mengatakan, sangat penting bagi Trump untuk tetap berpegang pada kebijakan AS yang telah lama ada dan melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan. Pakar lain mengingatkan, jika pemerintah AS bersedia mengorbankan kepentingan keamanan mitranya, maka ini akan merusak kepercayaan jaringan aliansi AS.

Trump telah tiba di Beijing dan dijadwalkan bertemu dengan Presiden RRT Xi Jin-ping pada tanggal 14 Mei dan 15 Mei, ini akan menjadi pertemuan puncak ke-2 antar kedua pemimpin sejak pertemuan Busan, Korea Selatan Oktober lalu. Hal ini juga menjadi kunjungan pertama presiden AS ke Tiongkok sejak kunjungan Trump selama masa jabatan pertamanya pada tahun 2017.

Trump menyampaikan kepada media, ia berencana untuk membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi Jin-ping, ini adalah salah satu dari banyak topik diskusi yang akan disampaikan.

Menjelang pertemuan Trump-Xi, R. Nicholas Burns yang menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Tiongkok selama pemerintahan Biden, memposting tulisannya di platform X, yang menyebut bahwa Taiwan dijadikan sebagai kartu liar yang sulit diprediksikan dalam pertemuan tingkat tinggi Beijing, yang penting adalah, “Presiden Trump tetap berpegang pada kebijakan AS yang telah berusia setengah abad, AS akan melanjutkan penjualan senjata besar-besaran ke Taiwan dan tidak akan melemahkan pemerintahnya dengan cara apa pun."

Secara terpisah, mantan Wakil Direktur Senior Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih untuk Urusan Tiongkok dan Taiwan, Rush Doshi mengatakan, pertemuan simbolis Trump-Xi ini mungkin lebih besar daripada isi substansialnya, lebih berfokus pada menjaga stabilitas daripada kemajuan struktural dalam hubungan AS-Tiongkok.

Ia menunjukkan, pembicaraan akan menyentuh isu-isu seperti perdagangan, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI), dan isu Taiwan berkemungkinan besar akan disebutkan, “tetapi belum jelas apakah akan ada keputusan besar yang akan dibuat”.

Ia mengatakan bahwa dapat diprediksi bahwa AS mungkin akan meningkatkan ekspor ke Tiongkok, termasuk pesawat Boeing, kedelai, daging sapi, dan mungkin beberapa semikonduktor. Di sisi lain, pemerintahan Trump mungkin akan membuat beberapa konsesi kebijakannya terkait Taiwan, tetapi sejauh ini, sinyal yang telah dirilis menunjukkan bahwa tidak akan ada perubahan besar pada kebijakannya terkait Taiwan.

Mengenai penyampaian Trump bahwa ia akan membahas penjualan senjata ke Taiwan dengan Xi Jinping, Rush Doshi menyatakan bahwa ia berharap ini bukan diskusi tentang kuantitas, kualitas, atau komponen penjualan senjata ke Taiwan.

Selain isu penjualan senjata, ada rumor bahwa Xi Jin-ping mungkin juga akan meminta Trump untuk mengubah kata-katanya mengenai Taiwan. Patricia Kim, seorang pakar hubungan AS-Tiongkok di Brookings Institution, baru-baru ini menulis sebuah analisis yang menyampaikan bahwa bahkan perubahan kecil dalam susunan kata pernyataan AS, seperti perubahan dari menyerukan resolusi damai atas perbedaan lintas selat menjadi “mendukung reunifikasi damai”, atau dari “tidak mendukung” Taiwan berdaulat menjadi “menentang” Taiwan berdaulat, semua ini memiliki makna yang sangat penting.

Patricia Kim menunjuk, ini mungkin tampak seperti perbedaan liguistik belaka, tetapi akan membentuk ekspektasi dan “memengaruhi Beijing menghitung risiko”. Jika pemerintah AS menunjukkan kesediaan untuk mengorbankan kepentingan keamanan mitranya di meja perundingan dengan Beijing, “ini tidak hanya akan mengguncang kepercayaan Taipei tetapi juga mengoyahkan kepercayaan seluruh jaringan aliansi AS”.

 

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解