Pilihan makanan pokok sehari-hari ternyata berdampak langsung pada beban kerja ginjal, dan hidangan mi berada di posisi yang jauh lebih memberatkan dibandingkan nasi putih. Ahli gizi di Taiwan Tsai Cheng-liang (蔡正亮) menjelaskan bahwa hidangan mi mengandung kadar gluten yang tinggi, dan setelah dimetabolisme, gluten menghasilkan nitrogen urea dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Dua jenis asam amino dalam produk tepung, yakni asam glutamat dan prolin, juga mudah memproduksi nitrogen urea melalui proses metabolisme. Secara keseluruhan, nitrogen urea yang dihasilkan dari mengonsumsi semangkuk mi mencapai sekitar 3,5 kali lipat dari semangkuk nasi putih.
Bagi pasien penyakit ginjal kronis, akumulasi nitrogen urea yang tidak terbuang dengan efektif dapat memicu rangkaian komplikasi serius. Tsai Cheng-liang menekankan bahwa jika kondisi ini berkembang menjadi uremia, pasien dapat mengalami gejala seperti kulit gatal, lemas berkepanjangan, dan penurunan daya ingat, bahkan pada kasus parah dapat mengancam jiwa.
Untuk pasien stadium awal dengan Laju Filtrasi Glomerulus GFR (tes yang digunakan untuk memeriksa seberapa baik ginjal bekerja) sekitar 90 namun sudah memiliki albuminuria, konsumsi hidangan mi satu hari dalam seminggu sebanyak satu hingga dua kali makan masih tergolong aman. Namun bagi pasien stadium 3 hingga 5 dengan GFR di bawah 60, makanan pokok harus hampir sepenuhnya beralih ke nasi putih, dengan mi dibatasi maksimal satu hingga dua kali makan per minggu.
Selain pembatasan mi, Tsai Cheng-liang juga mengingatkan tentang kesalahpahaman umum yang justru memperburuk kondisi ginjal. Banyak pasien penyakit ginjal kronis yang demi mengendalikan kondisinya secara tiba-tiba memangkas asupan kalori secara drastis. Tindakan ini bukan hanya tidak membantu, tetapi kontraproduktif, ketika tubuh kekurangan kalori, ia akan mulai memecah otot sebagai sumber energi, yang justru mempercepat produksi nitrogen urea dan memperburuk fungsi ginjal lebih cepat dari sebelumnya.
Tsai Cheng-liang menegaskan bahwa manajemen pola makan bagi pasien ginjal tidak cukup hanya memperhatikan jumlah asupan protein, pemilihan jenis makanan pokok pun memiliki dampak yang tidak kalah penting.
"Bukan hanya protein yang penting, makanan pokok juga akan memengaruhi nasib ginjal," ujarnya. Mengingat saat ini terdapat sekitar dua juta pasien penyakit ginjal kronis di Taiwan, pemahaman yang tepat tentang pola makan yang sesuai kondisi masing-masing menjadi kunci untuk memperlambat perburukan fungsi ginjal dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.