Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Gaji Usia 50 Tahun Tak Sebaik Orang Lain? Pakar: Pengalaman Adalah Modal, Bukan Beban

16/05/2026 15:17
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Gaji Usia 50 Tahun Tak Sebaik Orang Lain? Pakar: Pengalaman Adalah Modal, Bukan Beban (Foto: CNA)
Gaji Usia 50 Tahun Tak Sebaik Orang Lain? Pakar: Pengalaman Adalah Modal, Bukan Beban (Foto: CNA)

Data kuartal pertama 2026 dari Direktorat Jenderal Bujet, Akuntansi, dan Statistik Taiwan (DGBAS) menunjukkan bahwa nilai median gaji reguler kelompok usia 50 hingga 64 tahun mencapai NT$43.856, angka ini menjadi yang tertinggi di antara semua kelompok usia, melampaui pekerja baru di bawah 30 tahun yang sebesar NT$32.384 maupun pekerja di atas 65 tahun yang sebesar NT$38.818.  

Rata-rata gaji reguler keseluruhan tercatat NT$48.706, naik 2,69% secara tahunan. Namun di balik angka tersebut, hampir 70% karyawan di seluruh Taiwan masih menerima gaji di bawah rata-rata, dengan nilai tengah keseluruhan hanya NT$39.133.

Dari sisi industri, sektor informasi dan komunikasi serta keuangan dan asuransi memimpin dengan kisaran NT$70.000, sementara industri akomodasi dan katering berada di posisi terbawah dengan sekitar NT$35.000.

Bagi banyak kalangan paruh baya yang gajinya masih berada di bawah nilai tengah kelompok usianya, konsultan keuangan Hsiao Nai-hua (蕭乃樺) menawarkan perspektif yang berbeda.

Ia menegaskan bahwa logika meningkatkan pendapatan di usia 50 tahun tidak sama dengan usia muda, yakni bukan tentang bekerja mati-matian atau berpindah kerja demi mengejar gaji tinggi, melainkan tentang membangun kemampuan pendapatan kedua dari akumulasi yang sudah ada. Jaringan koneksi, kepercayaan klien, dan kemampuan memecahkan masalah yang dibangun selama puluhan tahun adalah aset yang tidak dimiliki generasi muda.

"Masalah banyak orang bukanlah tentang menghasilkan banyak atau sedikit, kecemasan terbesar sering kali berasal dari sudah berusaha tetapi tidak bisa mengejar ketertinggalan dari orang lain," ujarnya.

Hsiao Nai-hua berbagi kisah nyata seorang ibu rumah tangga dari suku penduduk asli berusia 50 tahun yang membuktikan bahwa pengalaman bisa dimonetisasi. Berawal dari kegiatan sukarela melayani para sesepuh di sukunya, perempuan itu memanfaatkan keterampilan tradisional ibu-ibu suku untuk menulis proposal dan berhasil memenangkan hadiah NT$200.000 bagi sukunya.

Ia mengkomersialkan teknik pembuatan arak beras dan bercocok tanam para sesepuh, mendirikan ruang kelas suku, hingga menarik undangan dari universitas bagi ibunya yang berusia 70 tahun untuk mengajar di Taipei. Karena memiliki gelar magister dan rekam jejak budaya yang kaya, ia sendiri kemudian dipekerjakan sebagai dosen untuk mengajar budaya kuliner penduduk asli.

Hsiao Nai-hua mengutip pula pendiri TSMC Morris Chang (張忠謀) yang baru mendirikan perusahaannya pada usia 55 tahun, justru karena jaringan, pengalaman, dan stabilitas emosi yang telah matang.

Selain monetisasi keahlian, Hsiao Nai-hua menekankan pentingnya membangun lapisan pendapatan ketiga dari aset. Manajemen keuangan yang mencakup produk defensif konservatif perlu dikombinasikan dengan instrumen investasi seperti dividen ETF, pendapatan sewa, obligasi, atau arus kas polis asuransi untuk mengantisipasi kemungkinan terputusnya pendapatan aktif.

Ia mengingatkan bahwa gaji di usia 50 tahun yang tidak sebaik orang lain bukanlah hal yang perlu ditakuti, yang berbahaya adalah stagnasi mental. Dengan menerima kondisi saat ini, mengemas ulang keterampilan yang sudah dimiliki, dan terus belajar hal baru, setiap orang di usia paruh baya masih memiliki peluang untuk membangun musim semi kedua dalam karier dan kehidupan finansialnya.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解