Penelitian terbaru Universitas Sichuan melaporkan temuan bahwa konsumsi makanan pedas dalam frekuensi tertentu berkaitan dengan indikator penuaan biologis yang lebih lambat. Studi ini menganalisis kebiasaan makan dan data kesehatan 7.874 orang paruh baya di barat daya Tiongkok, dengan usia rata-rata 51,7 tahun.
Dalam penelitian tersebut, “makan pedas” didefinisikan sebagai konsumsi cabai segar, cabai kering, atau bumbu berbasis cabai seperti saus cabai, sedangkan lada Sichuan dan lada hitam tidak termasuk. Kelompok yang mengonsumsi pedas 3–5 hari per minggu dilaporkan memiliki usia biologis sistem metabolisme dan ginjal yang masing-masing lebih muda 0,76 tahun dan 1,89 tahun, dengan manfaat yang disebut lebih jelas pada perempuan.
Peneliti menyebut frekuensi 3–5 hari per minggu sebagai rentang yang paling optimal, dengan penurunan usia biologis gabungan rata-rata 0,32 tahun. Sementara itu, konsumsi lebih dari 5 hari per minggu dilaporkan menunjukkan penurunan manfaat yang diduga terkait respons desensitisasi tubuh terhadap capsaicin.
Studi itu juga mencatat efek paling menonjol tampak pada ginjal, yang dikaitkan dengan distribusi capsaicin serta aktivasi reseptor TRPV1 yang berperan dalam perbaikan metabolisme dan respons antiinflamasi. Peneliti mengingatkan agar konsumsi lebih memprioritaskan cabai segar dan membatasi produk tinggi minyak serta garam, serta menyarankan kelompok tertentu, seperti penderita refluks asam lambung, gangguan usus, atau yang sedang mengonsumsi obat, untuk berkonsultasi lebih dulu, sementara yang tidak menyukai pedas dapat memilih paprika manis atau menambah asupan buah dan sayur kaya vitamin C.