Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Українська Panduan website

Kekhawatiran Inflasi dan Tingkat Dividen Meningkat, Saham Asia Melemah  

21/05/2026 12:55
Penulis & Editor: Amina Tjandra
Wakil Presiden Bank Sentral Yen Tzung-ta mengatakan,  berdasarkan data masa lalu, operasi bulanan dan arus masuk serta keluar modal asing berfluktuasi secara signifikan, dan bukan merupakan arus masuk atau keluar yang "satu arah" dan berkelanjutan. Saat ini, hal tersebut terutama mencerminkan situasi penyesuaian pasar saham. (foto:CNA)
Wakil Presiden Bank Sentral Yen Tzung-ta mengatakan, berdasarkan data masa lalu, operasi bulanan dan arus masuk serta keluar modal asing berfluktuasi secara signifikan, dan bukan merupakan arus masuk atau keluar yang "satu arah" dan berkelanjutan. Saat ini, hal tersebut terutama mencerminkan situasi penyesuaian pasar saham. (foto:CNA)

Ratio dividen obligasi pemerintah meningkat, ditambah dengan kekhawatiran inflasi yang sulit dikendalikan menyebabkan kepercayaan investor menjadi goyah, hal ini memperburuk kondisi pasar yang sudah tertekan oleh ancaman Presiden AS Donald Trump yang kembali akan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran, sehingga saham Asia kemarin terus melemah.

Menurut laporan AFP, imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007. Indeks S&P 500 dan Nasdaq yang didominasi saham teknologi telah turun untuk 3 hari transaksi berturut-turut, dan bursa regional mengikuti pergerakan Wall Street yang berakhir di zona merah.

Perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi, yang pada gilirannya memicu aksi jual obligasi pemerintah.

Baru-baru ini, Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa hanya selisih “1 jam” untuk memerintahkan kembali serangan AS terhadap Iran setelah gencatan senjata beberapa minggu dan jalan buntu perundingan perdamaian, namun, akhirnya menunda perintah tersebut.

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia memperingatkan, jika AS melancarkan serangan lagi, republik Islam itu akan “membuka perlawanan baru terhadap AS”.

Perusahaan raksasa chip Korea Selatan Samsung Electronics, kembali melanjutkan negosiasi dengan serikat pekerja kemarin, dan pemerintah turun tangan memediasi. Sebelumnya, negosiasi bonus kinerja gagal, dan serikat pekerja tengah merencanakan pemogokan. Ancaman pemogokan yang akan melibatkan puluhan ribu karyawan ini membuat pemerintah merasa terancam, pejabat mengingatkan, jika perselisihan perburuhan ini berkepanjangan, maka akan berdampak pada ekspor, produksi chip, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Pasar juga mencermati laporan keuangan raksasa chip NVIDIA yang akan segera dirilis. Investor mengevaluasi apakah investasi besar-besaran di pusat data kecerdasan buatan (AI) akan membuahkan hasil yang diharapkan.

Indeks acuan Nikkei 225 Jepang kemarin (20/5) ditutup melemah 1,2% menjadi 59.804,41 poin. Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup turun 0,6% menjadi 25.651,12 poin. Indeks Shanghai Composite ditutup turun 0,2% menjadi 4.162,18 poin.

Untuk bursa Asia lainnya, saham di Taipei, Seoul, Sydney, Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, Wellington, dan Manila ditutup dengan menunjukkan kondisi melemah.

 

 

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解
00:00
00:00
0.5x 1x 1.5x 2x